04 Oktober 2014

Kehidupan Malam di Vietnam

Semalam saya solat Isya di masjid Dong Du selepas pulang dari kantor. Biasanya jika waktu solat berjamaah sudah lewat, saya langsung menuju restoran dan solat di kamar. Namun malam itu saya menyempatkan untuk solat di masjid meskipun pintu-pintu ke ruang utama sudah di tutup. Di koridor timur saya bertemu Pa Misri, warga Malaysia yang sama-sama bekerja di Vietnam, dan di koridor utara (mirip di masjid Salman) sekelompok pengurus masjid dan Haris, teman Vietnam saya yang masih mahasiswa, tampak sibuk menyiapkan spanduk dan papan pengumuman untuk solat Idul Adha keesokan harinya. Setelah solat saya bertegur sapa dengan Pa Misri yang ternyata tengah mengaji lewat smatphonenya. Lalu bergabunglah Haris dengan kami. Setelah berbincang-bincang sedikit tentang persiapan Idul Adha besok, Pa Misri mengajak kami untuk makan malam di dekat pasar Ben Thanh. Pasar Ben Thanh adalah salah satu icon Ho Chi Minh City, banyak turis datang ke sana untuk belanja oleh-oleh. Meskipun icon kota, tapi kondisinya masih sumpek dan mirip pasar-pasar tradisional Indonesia. Kita pun mesti berhati-hati berbelanja di sana karena saya dengar sering ada kasus pencopetan.

Kami pun menuju pasar Ben Thanh dengan menggunakan motor. Saya dibonceng Pa Misri, sedangkan Haris menggunakan motornya sendiri. Alhamdulillah malam itu saya bisa makan bersama teman. Biasanya saya makan sendiri di restoran halal samping masjid. Malam itu jalan di sekitar pasar Ben Thanh cukup padat karena pasar tumpah. Banyak turis dan warga lokal yang menghabiskan waktu malam Sabtu di sana. Banyak sekali saya lihat turis-turis yang berjilbab, yang ternyata turis Malaysia. Pa Misri bercerita bahwa Vietnam adalah salah satu negara favorit tujuan wisatawan Malaysia, karena selain tiket dan akomodasi yang relatif murah, produk sandangnya menjadi tujuan utama belanja. Di Malaysia biaya produksi dan harga baju cukup mahal sehingga tak heran jika warga Malaysia mencari produk tekstil ke Vietnam dan Bandung. Saya baru sadar ternyata ini toh salah satu alasannya mengapa Bandung banyak dikunjungi wisatawan dari negeri Jiran itu.

Rumah makan yang kami tuju adalah Halal Amin. Malam itu saya dan Haris memesan sup ayam bihun (ata sup bihun ayam, saya lupa namanya). Sedangkan Pa Misri, yang sebelumnya sudah makan, hanya membeli durian dari penjaja di depan rumah makan. Wah, ternyata durian yang dia beli sepertinya high grade, karena dagingnya empuk, manis dan kualitasnya itu bisa dijustifikasi dengan harganya yang mahal. Hehe. Vietnam memang terkenal dengan kualitas produk agrikulturnya. Beberapa bulan yang lalu, saat musim mangga, saya sangat terkesima dengan kualitas mangga di sini. Meskipun kulitnya masih hijau, jika kita diamkan 2-3 hari, buahnya langsung matang dan betul-betul sedap untuk disantap. Kuning, padat dan manis.

Saat makan Pa Misri bercerita bahwa hari ini dia bermotor menuju kantornya yang berjarak 20an kilometer dari apartemennya. Lalu dia harus ke masjid untuk solat Jumat dan kembali ke kantor. Total jarak yang ditempuh hari ini sekitar 80an kilometer. Masya Allah. Saat itu saya langsung bersyukur dengan jarak kantor yang cukup dekat dengan masjid dan apartemen saya pun hanya berjarak puluhan meter dari mesjid. Dulu saat saya datang ke Vietnam, saya cukup khawatir dengan kondisi lingkungan, apakah mendukung untuk beribadah atau tidak. Karena sebelum saya datang ke Vietnam, saya sama sekali blank tentang kehidupan orang-orang di Vietnam, apalagi muslimnya. Dulu sebelum saya ke Jepang saya bisa mengontak PPI di sana sebelum kedatangan, sehingga minimal ada bayangan bagaimana menyiasati untuk survive di sini. Dalam konteks ini, survive mencari makanan halal dan tempat solat. Saya masih teringat, hari-hari pertama saya di Ho Chi minh City saya lewati tanpa gairah. Berharap keberuntungan datang dan perusahaan menempatkan saya kembali di Singapura sehingga saya bisa lebih dekat dengan kampung halaman. Namun ternyata Allah mengabulkan doa saya yang meminta untuk diberi kemudahan dalam menjalani kehidupan di sini. Satu per satu jawaban muncul. Saya akhirnya memiliki teman dari komunitas orang Indonesia dan komunitas masjid Dong Du. Setiap kami berencana berkumpul, itulah saat yang saya tunggu-tunggu. Tempat tinggal pun menjadi dekat dengan masjid, dimana akses ke makanan halal jadi lebih mudah. Saya masih bisa solat Dzuhur, Ashar, dan Magrib di roof top kantor. Hari Jumat pun saya diperbolehkan untuk memperpanjang lunch break demi solat Jumat. Inilah salah satu nikmat Allah yang intangible.

Setelah selesai makan, kami kembali ke masjid Dong Du. Pa Misri dan Haris pulang ke Distrik 2, sedangkan saya berjalan kaki menuju apartemen. Alhamdulillah, malam itu saya mendapatkan pengalaman baru lagi hasil dari silaturahmi dengan teman-teman. Semoga hari-hari berikutnya di Ho Chi Minh City menjadi lebih mudah dan menyenangkan buat saya dan saya bisa belajar banyak dari pengalaman selama tinggal di sini.