25 Desember 2012

Meningkatnya Kemalasan di Musim Dingin

Bagi saya yang pertama kali tinggal di negara 4 musim, datangnya musim dingin (winter) ini cukup memengaruhi kondisi badan saya. Saya baru mengerti sekarang kenapa beruang makan banyak dan berhibernasi. Di musim dingin ini saya jadi cepat lapar dan sering ngantuk. Apakah ini pertanda saya berubah menjadi beruang? Hehe. Yang pasti saya menyimpulkan teori baru: semakin rendah suhu lingkungan, maka inersia tubuh semakin bertambah :D

Sebenarnya ada alasan ilmiah di balik itu. Setidaknya menurut pendapat saya berdasarkan pengetahuan yang saya punya, di musim dingin tubuh berusaha menjaga suhu agar tetap hangat karena manusia adalah makhluk homeostasis. Untuk menyeimbangkan kondisi internal dengan kondisi luar yang semakin dingin, tubuh kita perlu lebih banyak energi untuk pembakaran. Itulah yang membuat saya dan beruang cepat lapar :D.

Intermezzo: Saya dan beruang. hehe @Tokyo Trick Art Museum - Decks, Odaiba

Kemudian, ngantuk. Gejala ini sebenarnya sudah sering terasa sejak SMA, tapi frekuensi ngantuk di musim dingin ini lebih banyak. Saya jadi teringat waktu latihan tes TOEFL iBT dulu, ada salah satu artikel yang bercerita tentang Seasonal Affective Disorder (SAD). Di soal tersebut contoh kasusnya adalah di Alaska saat musim dingin. Sama seperti Jepang, Alaska juga mengalami waku malam yang lebih panjang dari siang, bahkan kegelapannya lebih lama dari tempat saya bermukim sekarang. Kondisi tersebut memengaruhi hormon tubuh (saya lupa apa namanya) dan produksi vitamin D, dimana dipicu oleh cahaya matahari. Di Alaska kondisi tersebut bisa sampai menyebabkan orang merasa cepat capek, sedih, susah konsentrasi, dan depresi. Itu juga sepertinya yang terjadi pada saya sekarang, walaupun tidak separah di Alaska. Saya jadi sulit bangun, males belajar, dan cepat galau. Hahaha.

24 Desember 2012

Karakter Profesor

Jika Anda ingin tahu berbagai macam karakter profesor untuk mendapatkan tips "menghadapi" mereka, maka artikel ini bukan pilihan tepat untuk dibaca. Di sini saya hanya ingin bercerita tentang karakter profesor di sini (Jepang - tepatnya di kampus saya - tepatnya lagi di departemen saya - lebih tepatnya lagi di lab-lab terdekat dengan saya) yang sempat saya amati. Kenapa saya amati? Soalnya saya juga sedang mencari-cari gimana sih dosen yang baik itu?

Oke desu...beginilah hasil pengamatan saya.

I am sorry I don't know
Ada salah satu profesor, sebut saja Prof. Y (saya ngga mau pake Prof. "X", takut dikira mutant, hehe). Dia salah satu profesor yang terkenal di bidang geoteknik, setidaknya di Asia. Sudah menulis banyak paper dan jurnal juga menemukan beberapa metode testing baru. Tapi kadang saat kuliah beliau menjawab "I forget, I'll find out later" atau "I am sorry, I don't know" jika ada pertanyaan yang memang tidak bisa dia jawab. Terus apa uniknya?
Saya mencoba berada dalam posisi beliau. Menjadi orang yang sudah dalam posisi "atas" dan tidak bisa menjawab pertanyaan, mungkin akan terlihat bodoh, bahkan akan menurunkan reputasi. Tapi Prof. Y ini santai saja bilang lupa atau tidak tahu. Sambil nyengir pula. 

Saya simpulkan itu adalah salah satu contoh sincere expression. Dan memang, itu tidak membuat reputasi dia turun di mata kami. Jadi pelajaran yang bisa saya ambil, meskipun kita ahli di bidang tertentu dan tidak bisa menjawab pertanyaan tertentu di bidang kita, jadilah ksatria dengan mengatakan sejujur-jujurnya. Tidak perlu membela diri dan melakukan pembenaran. 
Kadang saya pernah mendengar hal seperti itu dalam presentasi-presentasi (tender, wawancara, dsb.)

I did that before
Suatu saat ada kunjungan dan presentasi tamu dari peneliti di salah satu universitas top Eropa. Dia mempresentasikan dengan gamblang metode assessment kelongsoran salah satu kota tua di Swiss. Presentasinya sangat memukau bagi saya. Teknologi yang digunakan juga sophisticated. Dan pemaparan sang peneliti juga jelas. 

Di dalam ruangan itu ada juga salah satu prof kami yang risetnya memiliki topik yang sama. Dari sejak awal saya perhatikan sang prof, beliau memerhatikan dengan serius presentasinya. Terkadang raut mukanya terlihat seperti mengagumi pemaparan peneliti tersebut. Saya menebak-nebak mungkin prof kami ini akan bertanya tentang kemungkinan kerjasama dalam penelitian di bidang tersebut, atau mungkin menanyakan lebih jauh fitur-fitur teknologi yang digunakan dalam assessment itu.

Salah.

Saat sesi diskusi dibuka, dengan humblenya prof kami mempertanyakan reliabilitas metode tersebut karena jauh sebelum itu dia sudah menggunakan teknologi tersebut. "I did that before when I was being a visiting researcher in Cambridge...bla...bla...bla...." 

Err...

Saya salut dengan kepribadiannya. Diam-diam menghanyutkan. Dan si peneliti pun yang sejak tadi berbicara berapi-api menurunkan nada bicaranya dan mengakui bahwa metode tersebut memiliki beberapa kekurangan. Pelajaran yang bisa diambil: bagaikan ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk.

Do not follow my way in your writing
Salah satu prof senior di lab kami, selalu memposting paper-paper terbarunya di milis lab. Beliau salah satu ahli prof yang cukup berpengaruh di dunia geoteknik. Suatu saat beliau mengirim paper terbarunya yang akan dikirimkan di salah satu konferensi tahun depan. Namun ada catatan khusus dalam suratnya. Intinya beliau tidak puas dengan hasil risetnya ini, karena kurangnya studi literatur oleh salah satu mahasiswa yang berkontribus. Tapi karena bukan untuk jurnal masih bisa diterima. Namun di akhir suratnya beliau menambahkan: "Do not follow my way in your writing."

Di postingan lain, untuk paper yang akan di presentasikan di salah satu seminar di negara berkembang, beliau menyatakan kalau paper tersebut minim referensi yang tak lain adalah tidak bagus. Tapi papernya diterima oleh panitia. Di surat beliau menjelaskan bahwa minim referensi sangat tidak bagus. Kenapa papernya diterima? Karena beliau pembicara kunci di sana.

Pelajaran yang bisa saya ambil: keterbukaan. Prof ini menyadari dari kesalahannya orang lain bisa belajar. Dan tidak ragu dia membuka kesalahan tersebut pada mahasiswa-mahasiswanya.



Yah, itulah kisah beberapa orang profesor di departemen saya. Semoga berguna bagi orang yang sedang mencari jati diri. hehehe.




Rush Hour di Akhir Tahun

Jatuh ke lubang yang sama berkali-kali.

Inilah yang terjadi pada saya di akhir tahun. Sejak awal mula ngeblog saya memasang "visitor counter" yang menunjukkan seberapa seringnya blog saya dikunjungi orang. Mungkin memang fitrahnya manusia ya sebagai makhluk sosial, pengen dikenal banyak orang. Banyaknya visitor counter juga menandakan tingkat ke-terkenalan si blogger. Dulu sekitar tahun 2009 ada blog yang saya jadikan acuan, yaitu blognya kang Mahmuy. Dulu saya heran banget jumlah visitornya udah puluhan ribu. Akhirnya berbagai macam cara pun saya lakukan agar jumlah visitor blog saya melebihi blog kang Mahmuy. Dari nge-refresh sendiri berkali-kali, hingga bikin postingan yang "pasti" dicari orang, contohnya ini.


Tapi lambat laun saya mulai sadar klo besarnya jumlah visitor itu juga berkorelasi dengan bagus tidaknya tulisan yang kita buat di blog. Apakah menarik atau tidak. Inilah yang kemudian membuat saya bertekad untuk menulis lebih banyak. Karena selain jadi terkenal (hehehe) menulis juga bisa mengikat ilmu dengan lebih baik, seperti yang teman saya bilang.

Untuk memacu semangat saya, tiap tahun saya bertekad untuk menulis lebih banyak dari tahun berikutnya. Tapi sejak tahun kemarin tulisannya pasti di rapel di akhir bulan. Dan terjadi pula di tahun ini. Waaaa...

Butuh minimal delapan postingan untuk melebihi jumlah tahun kemarin. Ok, let's start! (tulisan ini diitung satu ya. hehe)