29 April 2009

Cerita Penjual Jagung Bakar

Sedang fokus-fokusnya mengerjakan tugas baja, tiba-tiba...

"Jaguuung...
Jaguuung bakaaaar..."
Suara seorang laki-laki tua memecahkan keheningan malam. Sumber suara itu melintas di depan rumah kami, lalu perlahan-lahan mulai mengecil, menjauh. Namun, entah kenapa saya tiba-tiba beranjak dari tempat belajar, bilang sama ibu mau beli jagung bakar, lalu mengejar sumber suara tersebut.

"Mang, meser jagong..."
"Oh, sabaraha jang?"
-belum saya jawab-
"Bumina nu mana?"
"Eta nu di pengkolan, nu tembok bodas"

Dari percakapan di atas ada beberapa informasi yang bisa kita dapat:
-saya mau beli jagung bakar
-si penjual sudah berjalan cukup jauh dari rumah saya
-dia berharap saya membeli banyak, karena ngeliat saya rela mengejar dia dengan jarak sejauh itu



Saya pun kembali ke rumah diikuti si emang itu. Sampai di rumah:

"Neng, mau jagong?"
"Ngga."
"Ade, mau?"
"Enggak."
"Kalo Ibu, mau jagung ngga?"
"Ngga"

waaaaa...sugan teh, pada mau. Walaupun saya sebagai pembeli dan memiliki bargaining position yang tinggi, jadi asa ga enak juga euy ka si mang jagong. Yasudahlah.

Akhirnya, bener juga, penjual jagung tersebut nawarin buat ngabisin dagangannya. Ada enam jagung yang tersisa. Akhirnya, dengan beberapa pertimbangan yang datang dari hati, saya memutuskan beli empat jagung seharga Rp. 6000,00. Terus, adik-adik saya pada keluar, bukan mau mesen, tapi mau nonton si emang ngebakar jagung. Lalu, adik saya yang paling besar, yang lagi UN SMP, ngobrol dengan penjual jagung tersebut. Saya sendiri masuk ke dalam rumah.

Adik saya pun masuk juga setelah beberapa lama. Dia bercerita:

"A, si emang kasian tau..."
"Kenapa gitu?"
"Katanya teh...(bla...bla..bla)"
...

Dari percakapan tadi, saya pun tahu klo si emang membawa jagungnya itu (asli) dari Lembang. Dia dapat dari anak-anaknya yang tinggal di sana dan dia jual di sini (daerah Bandung Tengah agak selatan). Bukan anaknya yang mengantar jagung-jagung tersebut, tapi dia sendiri yang berangkat ke Lembang. Dan, hari ini, sejak pukul 4 sore, dia menjajakan jagung yang ia akui jumlahnya relatif lebih sedikit dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya. Kenapa sedikit? Katanya malu, soalnya jagung yang ini kebetulan kecil-kecil, jadi dia jual sedikit saja.

Hmmm...
Asa malu sama diri sendiri. Ternyata kita bisa banyak belajar dari lingkungan di sekitar kita. Banyak sekali. Seperti contoh di atas. Mungkin sebagian orang ada yang berpendapat, klo hal tersebut adalah kewajaran, ada orang yang susah, ada orang yang senang. Tapi, bagi saya sendiri, suka ada yang "bergejolak" di hati klo denger-denger cerita seperti ini. Melihat contoh nyata sebuah kerja keras, kesabaran, dan ketangguhan seorang manusia dalam menghadapi kehidupannya.

Sama halnya dengan sebuah contoh lain, waktu saya dan Ibu beli sate tahu di belokan Reog, Turangga. Ada seorang kakek-kakek yang berjualan baso tahu dari Cicadas (rumahnya) hingga Talaga Bodas, dan transit malam harinya di daerah Reog. Betapa jauhnya jarak yang ia tempuh. Lalu, setelah ibu ngobrol lebih jauh lagi, kami tahu ternyata si kakek memiliki anak-anak yang (saya simpulkan) sudah mapan dan logikanya bisa menghidupi si kakek. Lalu kenapa si kakek masih berjualan baso tahu dengan medan sejauh itu? Dia menjawab dengan simpel, "Jika kita masih bisa bergerak dan berusaha, kenapa harus diam? Rezeki itu harus kita cari, ini yang namanya perjuangan" (kata-kata ini saya rekonstruksi ulang tanpa menghilangkan makna, mengingat kejadiannya sudah lama).

"Jika kita masih bisa bergerak dan berusaha, kenapa harus diam? Rezeki itu harus kita cari, ini yang namanya perjuangan"


Cerita-cerita di atas bagi saya cukup memberikan beberapa kesimpulan:
1. Bersyukur, alhamdulillah kondisi saya tidak sesulit yang dialami orang-orang tersebut.
2. Kerja keras, diperlukan agar dapat mengatasi segala macam tantangan dalam hidup ini. Bisa jadi dengan kondisi kita yang lebih baik dari orang-orang tersebut, ternyata Allah menyiapkan tantangan yang jauh lebih besar bagi kita.
3. Berprinsip, harus dimiliki, agar bisa bertahan dalam perjuangan.


Semoga tulisan ini bisa menjadi inspirasi bagi kita dan bisa mengubah ke arah yang lebih baik lagi. Amiin.


Oia, akhirnya adik-adik saya tergoda juga buat makan jagung bakar itu..Huh!


28 April 2009

Salman: My Second Home




When you have something wrong in your life, just go inside...
When you have terrible feeling, just go inside...
When you need some fresh air for your mind, clean water that freshen your spirit, just sit and pray inside...
Inside it...Salman

It's a mosque in our campus. I met him, for the first time, when I was asked by my friend in junior high school to accompany him to ITB. And when I entered ITB as a student, I found that Salman wasn't just an ordinary mosque.

In my early life in ITB, I spend most of my time in Salman and I got some 'first friend' there. Moreover, when I decided to join an organization under Salman's authority, I got more friends that would be my best friends. I won't forget them, because they were inspired me to be a dilligent & hard worker student in my first year at ITB. For example, one of them have a daily activity by visiting library. He always borrow a thick, boring (in my mind), english textbook (usually Math, Chemistry, and Physics) and put them in his backpack. Once I saw him (he seems like a turtle and walk crooked) doing his activity, I was impressed. I was jealous by his spirit of study and also embarassed because I used to be a "loyal" library visitor too when I was in high school. Because of that, I declared to my self, I will study hard (again), get as many as knowledge I need, no matter if I should do the turtle walk too (because carrying many books on my back). So, in my next sophomore year and until this third year in campus, I always visit the library, even it located in far-far away land from my "green area" at Civil Engineering Dept.


Oia, another advantage I got from this friendship is, I always remembered to be a good moslem, which should have a good attitude to God, people, and other God's creature.

Nice Place to Study and Great Place to Refresh Our Spirit


Salman and its atmosphere is very conducive to great productivity. Imagine you are reading a book, review the last class materials, or conduct scientific discussion with your friends in a fresh air and accompanied by soft-noise from bird's twitter and chirped cricket... That's why Salman also functioned to be an activities center instead its primary function as a mosque to serve and fulfill moslem's religious needs.

Almost everyday I spend my time in Salman. I always study and take a rest in there (instead of pray of course), especially when I was in first year. I made it to be my basecamp because usually my class schedule didn't continuous in one day, so I can take a nap for a while. I believe, one of many factors that caused I got a flying mark in my first year is a perfect blend of my study and religious activity in Salman. Unfortunately, when I was sophomore, my mark is "cooling down". And in that "depression era", I often make Salman as a place to cry and replenish my spirit. Now, in this year of study, I tried to get back my precious achievement by approaches Salman again. Amin.

Get Yourself Toward Salman
When I was preparing my departure to study
at TN High School for 3 years, my closest neighbor, whom I regard him as my father, said:

"Wherever you are, whatever your activities, get yourself closer to the mosque, do not forget it!"

Such a simple admonition, but has a deep meaning...

Yes, when we are close to the mosque, we also close to Allah SWT, which means we will (insya Allah) always under His Mercy.

So as a mosque, Salman should be a place that we paid attention to. Especially by an ITB students.

Last, based on my experience, I suggest, if you are in the first year study at ITB, at least you should make Salman as your initial "environment" which will provides you the basic principle to face a tough life in ITB...
"Wherever you are, whatever your activities, get yourself closer to the mosque, do not forget it!"



I hope this article can inspire you and re-inspire & recall the memory of author about it
Amiin .

07 April 2009

Tentara Langit Itu Pun Jatuh...

Baru kemarin kami disuruh mencari tahu tentang kecelakaan-kecelakaan di udara saat kuliah Kapita Selekta oleh Pak Harmein. Mungkin (karena belum saya kerjakan sepenuhnya) agar kami dapat menganalisis dan menyimpulkan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kecelakaan-kecelakaan tersebut. Kuliah selesai pada pukul 13.00, namun ternyata saat itu juga di kota yang sama, di tempat yang berbeda, musibah naas berlangsung. Pada pukul 13.00 tersebut terjadi kecelakaan pesawat yang menewaskan 24 prajurit TNI AU, 18 di antaranya adalah instruktur dan siswa Pendidikan Kualifikasi Khusus Para Lanjut Tempur Angk. XXXIII (Kompas, 7/4).

Sungguh suatu kehilangan besar bagi Indonesia dan institusi TNI. Menurut keterangan (Kompas), para korban adalah anggota Pasukan Khas TNI AU (satu dari sekian banyak pasukan khusus yang dimiliki TNI). Ya, pasukan khusus, merupakan para prajurit yang terpilih. Kini kita kehilangan mereka.

Kecelakaan Udara
Sudah banyak kecelakaan pesawat yang terjadi di Indonesia. Penyebabnya bermacam-macam, bisa faktor teknis maupun human error. Yang ingin saya soroti, kecelakaan yang menimpa TNI AU. Dalam hal ini coba kita lihat posisi TNI AU sebagai penyelengara penerbangan yang sejajar dengan maskapai-maskapai komersil lainnya. Kecelakaan pesawat komersil, seperti Adam Air yang jatuh di perairan Majene, Lion Air yang tergelincir di Surabaya, menunjukkan kesalahan dari faktor manusia dan persiapan teknis. Namun lihatlah kecelakaan yang menimpa TNI AU kita, kebanyakan dari faktor teknis, dan jika diperluas lagi faktor teknis itu berupa usia pesawat. OV-10 Bronco yang sudah berkali-kali jatuh (yang terakhir malah menimpa alumni TN, Bang Eli dan Bang Harcus) bukan gara-gara buruknya maintenance pesawat - saya yakin dengan disiplin yang tinggi, tidak mungkin personil TNI mengabaikan tanggung jawab - namun dikarenakan usia pesawat. TNI AU rata-rata memiliki pesawat yang sudah tua dan sudah lewat masa operasinya. Masa operasi pesawat dibatasi, 25 tahun untuk pesawat sipil dan 20 tahun untuk pesawat militer (F Djoko Poerwoko, Kompas (7/4)).

Pengadaan alutsista seperti pesawat tempur, pasti menyangkut dengan dana. Masalah dana atau finansial ini memang merupakan permasalahan kompleks. Di tengah usaha kebangkitan Indonesia dari krisis yang melanda, permasalahan perangkat pertahanan dan keamanan ini kembali menghadapkan kita kepada sebuah pilihan klasik: "bullet or butter". Artinya, apakah kita akan memprioritaskan hankam atau kesejahteraan internal negeri ini.

Kompleks...sangat kompleks memang.

Semoga Indonesia dan TNI kita dapat menjadi lebih baik. Mari berikan yang terbaik di mana pun kita berada!

Selamat jalan para "Tentara Langit"!
Semoga Allah memberi tempat yang terbaik dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.
Amin.



05 April 2009

Hearts of Iron 2 : Doomsday

Sudah lama saya ingin nge-post artikel tentang game ini. Cuma hasrat untuk nulis dikalahkan hasrat maen game itu sendiri. Tapi akhirnya saya tulis juga nih, biar puas, bagi-bagi keenakan, soalnya klo melakukan sesuatu yang bikin “enak” sendirian kan dosa (loh???).

Game ini keluaran tahun 2006 dan saya beli tahun itu juga di salah satu tempat game-game bajakan di Bandung. Jangan salah ya, saya ngga beli di Empire (baca:emperan), tapi di toko (udah punya cabang pula). Herannya toko ini kayanya ga pernah kena razia (ada apa gerangan?). Cuma lucunya di pintu depan toko ini ada tulisanyang kurang lebih seperti ini: “Tidak menjual produk apapun dari Microsoft “. Mungkin teman-teman yang sering beli CD/DVD bajakan tahu toko ini. Yah, tulisan itu menandakan baru Microsoft yang aware terhadap piracy activities di Indonesia. Software vendor lainnya ngga. Atau mungkin malah software/programmer yang lain sudah paham dan mengerti bahwa rata-rata orang Indonesia tidak dapat menjangkau harga software yang begitu mahal. Logikanya, lebih baik beli hardware ketimbang software klo harganya ngga beda jauh. Nah, oleh karena itu software vendor/programmer ini dengan baik membiarkan pembajakan terus berjalan dan menyerahkan urusannya kepada polisi. Wallahualam.

Kembali ke “Hati Baja 2: Hari Kiamat” (translate maksa). Game ini ber-genre strategi. Bener-bener strategi, jangan salah. Jika kita langsung berpikiran mirip-mirip Age of Empire, Praetorian, dsb., salah besar! Game ini bener-bener strategi (lagi). Buat yang ngga biasa, interface-nya ga menarik sama sekali, saya pun merasa begitu saat main untuk kali pertama. Tapi saya tidak merasa rugi, toh 1 CD itu saya dapatkan gara-gara bonus karena sudah membeli 10 CD sebelumnya, lagian coba-coba pa salahnya kan? Hehe. Layar utamanya hanya berupa peta dunia besar lengkap dengan propinsi/kota-kotanya. Nama-nama geografi-nya akurat dan presisi (waduh, jadi inget tes awal prak. Fidas). Aslinya simbol-simbol unit pasukan hanya berupa bidak-bidak kecil tak bernyawa (2D statis) namun pada HOI 2 ini, ada pilihan untuk diubah jadi bidak beranimasi. Sekali lagi, klo kita hanya melihat dari segi interface-nya, game ini TIDAK MENARIK.

Isi Game yang Sangat Kompleks


Saya baru tertarik saat mengetahui kompleksnya game ini. Klo kita biasa mengenal strategi cari uang-bangun-perang –nya Age of Empire atau Warcraft, di HOI ini: cari uang pake otak-bangun pasukan pake otak-perang pake o
tak-mau menang?pake otak dong!...nah makanya, biasanya klo abis maen game ini saya sering sakit kepala. Pusing bukan main. Untungnya masih ada persediaan vitamin/multivitamin di rumah, jadi setelah maen game langsung recovery deh. Klo engga minum susu dulu terus tidur (hehe..maaf ngiklan dikit). Biar lebih sistematis saya jelasin per bagian ya…


Aspek Geografis dan Historis
Jelas game ini direncanakan dengan sangat baik dengan memperhatikan detail. HOI 2 ini termasuk game based on history. Mungkin mirip-
mirip Brother in Arms. Game perang dengan akurasi sejarah yang menawan. Tanggal, peristiwa, dan tempat dalam HOI 2 ini sebagian besar sama. Peristiwa-peristiwa yang akan terjadi, tergantung dari “sepak terjang” kita. Misal jika kita jadi Jerman, terus mulai membangun pasukan dengan jumlah yang besar, akan muncul peristiwa penandatanganan poros Berlin-Tokyo-Roma. Atau pada tanggal tertentu (based on history), akan ada opsi yang ditawarkan pada kita. Contoh lagi, pada tanggal XX-bulan X-tahun XXXX, saya lupa, saat terjadi pemberontakan di Spanyol, kita akan ditawarkan membantu Spanyol Republik atau tidak (artinya:membantu Spanyol Nasionalis). Jika ya, Jenderal Franco Francisco Bahamonde akan menerima bantuan suplai logistik, uang, dan pasukan dari kita. Akhirnya, peristiwa itu akan menyeret kita mendekati situasi perang (belligerence-nya bertambah), klo kita main sebagai Jerman loh.

Detail geografinya pun cukup bagus. Battlefield-nya yang berupa peta bumi dibagi-bagi ke dalam provinsi-provinsi yang sangat sesuai dengan negaranya. Main game ini bisa menambah wawasan geografi kita!


Tokoh-tokoh

Pelaku utama dalam game ini tentu saja kita. Namun kita harus memilih salah satu negara untuk di-manage. Perwira-perwira tingginya, petinggi-petinggi negaranya, dan tim risetnya sangat akurat! Sangat detail. Semua yang ada di game ada juga dalam sejarah, beserta track recordnya. Jika teman-teman pernah membaca sejarah PD 2 pastilah kenal Erwin Rommel, Heinz Guderian, Montgomery, Patton, atau Terauchi. Mereka adalah jenderal-jenderal Perang Dunia II. Ribuan tokoh sejarah ada di game ini. Dan menariknya, kitalah yang menentukan karir mereka. Memilih jenderal dengan spesialis tertentu untuk pasukan tertentu dan mencocokan spesialisasinya itu untuk berbagai macam misi akan sangat membantu dalam peperangan. Track record pertempuran pun mereka pun ada di sini.


Unit Pasukan
Ada tiga jenis pasukan: Darat, Laut, dan Udara. Setiap unit sangat detail. Merepresentasikan negaranya. Contoh Jerman, ada unit Panzer (dan jenis tanknya benar-benar sesuai sejarah, Tiger, Panther, dsb.), Fallschirmjagger (pasukan terjun paying/komando), Fighter Messercshmit, dan berpuluh-puluh unit tempu
r serta brigade-brigade lain. Uniknya tiap divisi pun punya nama yang berbeda. Divisi Infantri ke-1, Divisi Panzer SS, 101st Airborne, Kriegsmarine, dll. Beribu-ribu namanya.


Memimpin Negara
Ada 5 Bar utama yang terletak di bagian atas. Dari situlah sebagian besar pengelolaan negara yang kita mainkan dimulai. Teknologi, diplomasi, intelijen, dan produksi, serta kita dapat melihat perkembangan perang dan game dengan sangat lengkap di bagian statistik. Yup, game ini tidak hanya ditentukan oleh kemampuan tekn
is dan taktis pertempuran namun kuga dari banyak faktor strategi lainnya. Menyusupkan mata-mata, meng¬kudeta sebuah negara, mencuri teknologi musuh, mempengaruhi negara lain, mendeklarasikan perang, perjanjian damai, membangun industry, memilih menteri-menteri, dan aksi-aksi lainnya yang berkontribusi terhadap perjuangan negara kita.


Teknik Bertempur
Game ini juga melatih otak kita dalam menyusun strategi. Berkali-kali lipat dari strategi yang harus disiapkan dalam bermain catur. Banyak faktor yang menentukan kemenangan kita di lapangan. Contohnya medan tempur, akan sangat
sulit jika kita bertempur di pegunungan, saat malam hari, saat cuaca buruk, dan saat musim salju. Perang kota pun akan sangat sulit terkecuali kita memilih jenderal yang bertitel Urban Warfare Specialist untuk memimpin divisi pasukan kita.
Awalnya saya juga kesulitan dalam memainkan game ini. Pertama kali main, dengan difficulty normal. Saya kalah telak (saya main sebagai Jerman, soalnya ada sensasi tersendiri jika kita dapat memutarbalikkan sejarah). Akhirnya sejak saat itu saya maen pake cheat (hehehe). Tapi lama kelamaan saya belajar taktik dari situ. Saya coba bermain normal tanpa cheat, dan hasilya…saya bisa!

Intinya setiap detik sangat berharga untuk menentukan strategi jitu. Makanya maen game ini pasti lama. Pause dulu untuk nyusun strategi, baru maen lagi, terus pause lagi, terus lanjut lagi. Begitulah seterusnya. Di game ini pun saya jadi tahu taktik-taktik militer: ambush, counterattack, breakthrough, encirclement, dll. Akhirnya saya pun punya taktik tempur favorit saya. Mundur teratur, potong jalur suplai, dan HABISI! Ya, klo musuh terkepung di satu provinsi, divisi mereka akan hancur lebur, hilang. Beda jika kita bertempur biasa. Jika kalah maka akan ada opsi retreat. Mundur namun divisinya tetap ada, hanya perlu reorganisasi. Biasanya saya pake strategi ini untuk menghadapi negara yang mengandalkan kekuatan darat seperti Uni Soviet. Negara ini sempet bikin kesel. Waktu saya maen sebagai Jerman dan sedang menghadapi front barat melawan Prancis dan Inggris, sekonyong-konyong si Red Army ini mendeklarasikan perang sepihak. Sialan betul kan?


Ada Indonesia!
Inget foto-foto di bawah ini? Mereka adalah pahlawan nasional kita Teman! Pemimpin-pemimpin Indonesia.
Ya, semua negara yang saat PD II
berlangsung telah berdiri, ada di game ini. Jenderal Sudirman, Bung Karno, Moh. Hatta, dan jenderal-jenderal serta menteri-menteri Indonesia saat itu beraksi di HOI 2 ini. Provinsi-provinsinya pun sama! Tentunya sesuai kondisi saat itu. Research teamnya pun ada Universitas Indonesia, Akademi Militer, AAL, dll. Saya pernah mencoba memainkan Indonesia. Terbayangkah negeri kita terbentang dari Madagaskar sampai West Coast-nya Amerika? Di game ini bisa! Indonesia pun menguasai Australia. Dan saya sangat puas saat melihat di track recordnya Field Marshall Abdul Harris Nasution: Lead the winning attack on San Franciscoinvolving army group sized force that occurred between September 12, 1950 and September 15, 1950 against United States
(Beeeuuh..keren pisan Cuy!)


Kelebihan lainnya terletak pada fleksibilitas game ini. Game ini bisa kita edit baik tokoh-tokohnya maupun scriptnya. Kenapa saya edit? Ada kekurangan dalam game ini. Data historis untuk negara-negara baru merdeka seperti Indonesia, Malaysia, dan lain-lain tidak lengkap. Tim developer sepertinya asal saja dalam menelusuri fakta sejarah negara-negara tersebut. Masa Prabowo ada pas PD II? Terus jenderal-jenderalnya pun kecampur sama jenderal Belanda. Nama-nama divisinya pun nama Belanda. Ngga rela kan pasukan kita dipimpin Ter Poorten atau van Oyen? Akhirnya saya edit foto-foto temen2 saya yang lagi belajar di Akademi TNI, saya bikin grayscale, dan saya jadikan mereka jenderal-jenderal Indonesia. Saya juga ngedit foto saya, dan saya tempatkan sebagai menteri dan kepala staf. Hehehe. Field Marshall Hamid Ghani…keren kan?

Oia, saya juga sempet ikutan di forum HOI 2 ini di Paradox Plaza (Paradox adalah developer game ini). Saya sempet dikasih email tentang perekrutan beta tester (pengetes game) untuk HOI 3. Saya daftar dengan spesialisasi Historian (soalnya mau nambahin data2 yang ga bener tentang Indonesia). Tapi saya gagal. Heu…


Ready for the next war?
Pokoke keren abislah. Bagi yang suka strategi sih. Musiknya juga mantap. Karya Andreas Waldetoft. Heroik banget lah.
Intinya...
Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari sini. Wawasan kita tentang sejarah, geografi, dan tokoh dunia bertambah. Juga sebenarnya game ini mengajarkan bahwa segala ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan dapat kita atasi dengan perencanaan yang matang dan strategi yang jitu. Hal itu berlaku pula di kehidupan nyata. Bagi yang tertarik, cobalah! Dan tunggu HOI 3 yang rencananya akan keluar tahun ini!



03 April 2009

Saat Peuyeum Diproduksi di Amsterdam


Introduction

Negeri Belanda atau Holland Bakery adalah sebuah negara maju di benua Eropa yang telah menjadi salah satu pusat ekonomi, industri, dan teknologi di dunia. Salah satu produk terkenalnya, yaitu Hollanda Choco Bear terbukti telah menyihir sebagian besar warga dunia sehingga mereka rela pergi jauh-jauh dari negerinya menuju The Netherlands, bukan hanya untuk menukarkan bohlam Phillips yang pecah atau hanya sekedar minta garansi handycam JVC, namun untuk menimba ilmu, mencari penghasilan, serta berinteraksi untuk menciptakan network yang kuat dalam pekerjaan mereka yang pada akhirnya akan membawa benefit bagi dirinya masing-masing.

(waduuh…maafffh, error tak tertahankan, semoga tidak ada yang merasa dirugikan…, yang merasa diuntungkan karena sudah diiklankan dimohon doanya biar saya menang di kompetiblog ini ;) hehe..peace… )

Global Competition/Global Rivalry

Di zaman yang serba canggih, serba otomatis, dan semakin didominasi oleh teknologi ini, telah menjadikan dunia kita menjadi dunia yang tanpa batas. Interaksi yang dahulu dilakukan setiap orang (bahkan hanya dalam lingkup daerah) sangat terbatas, saat ini hampir tiada batas!

Salah satu dampak yang sangat signifikan adalah munculnya persaingan global. Dengan tiadanya batas yang menghalangi orang-orang untuk berinteraksi dan bersaing, timbullah efek tersebut.

Persaingan, bisa bermakna positif maupun negatif. Tergantung kita menyikapinya. Jika kita cukup bijak, dewasa, dan penuh persiapan, persaingan akan menguntungkan dan semakin melejitkan potensi kita. Sebaliknya, jika kita tidak punya persiapan apapun untuk bersaing, dia akan membunuh kita.

Global Community

Menurut saya, untuk membuat persaingan global menjadi positif itulah kita perlu apa yang dinamakan global community. Pasti inget kan, lebih susah mematahkan satu iket sapu lidi dibandingkan satu batang Poki-Poki rasa coklat…(yah, maksudnya kerja bareng menghasilkan kekuatan yang lebih daripada kerja sendiri-sendiri – jangan terlalu serius ah…hehe). So, a community can help us to achieve something faster, easier, also can help us to protect ourself from devastated power. Untuk menembus persaingan global ini, serta bertahan dari efek buruk yang ditimbulkannya, kita memerlukan sebuah komunitas, tidak cukup hanya komunitas RT/RW atau kelurahan, namun sebuah komunitas global dimana kita bisa saling belajar, bertukar pikiran, dan saling menghargai sehingga persaingan global ini menjadi sebuah ajang positif untuk meng-upgrade diri kita dan memacu negeri kita agar sejajar dengan bangsa-bangsa maju lainnya.

How to enter global community?

Teman, tentunya paragraf pertama di atas cukup menjawab pertanyaan ini. Belanda adalah salah satu dari sekian banyak negara maju yang menyediakan fasilitas untuk “belajar” dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks. Kondisi multination sekaligus multiculture negara tersebut diharapkan dapat menjadi sebuah simulasi bagi kita tentang bagaimana bersikap dan menyikapi persaingan global ini. Dengan kata lain, memasuki negeri Belanda (dan tentu saja di sana bukan hanya minta garansi handycam JVC! - keukeuh...) dapat memberikan kita sebuah kesempatan besar untuk bergabung dalam sebuah komunitas global.

Dan terbukalah peluang untuk membuat pabrik peuyeum di Amsterdam…(smile!)


Ingin langkah awal??

klik-di sini




02 April 2009

Cara Menghormat Bendera


Kemarin, di rabu pagi yang cerah dan tidak ada kuliah, saya berkunjung ke American Corner di Perpustakaan Pusat ITB. American Corner adalah sebuah ruangan yang dibangun atas bantuan pemerintah Amerika Serikat. Jika Sampoerna Corner adalah salah satu bentuk CSR dari PT. Sampoerna lewat Sampoerna Foundation-nya, AmCorn ini mungkin kurang lebih sebuah perwujudan usaha Amerika untuk memperlihatkan bahwa negaranya "cinta damai" dan "menjunjung tinggi" HAM. Soalnya, buku-buku yang ada di AmCorn ini sangat beragam mulai dari sejarah bangsa AS, politik, sains, teknologi, hingga majalah-majalah hiburan yang cukup ter-update. Dan yang pasti, buku-buku itu sangat subjektif, memperlihatkan kekuatan Amerika dari segi ekonomi, politik, dan teknologi. Namun, jika kita cukup bijaksana dalam memilih bacaan dan menyaring isinya, berbagai macam pengetahuan bisa kita dapatkan juga. Salah satunya yang saya baca kemarin.

Setelah puas melihat-lihat buku bergambar tentang tragedi 9/11, saya melihat sebuah buku kecil (lebih mirip buklet tepatnya), judulnya "Our Flag". Dengan desain yang simpel dan unik (dan fullcolour tentunya), saya pun tertarik untuk membacanya. Membaca di tempat, sambil berdiri. Buku itu menerangkan sejarah dan cara memperlakukan "The Star Spangled Banner", bendera Amerika. Saya pun baru tahu bagian-bagian bendera di sana, ada bagian yang bernama hoist (tinggi bendera) dan fly (lebar bendera).

Namun yang membuat saya terenyuh adalah petunjuk memperlakukan bendera. Di sana tertera dengan jelas ilustrasi-ilustrasi cara menghormat, membawa bendera dalam setiap kondisi, cara meletakkan bendera, dan lain-lain secara detail dengan menarik (karena berwarna dan bergambar, anak kecil pun dapat memahami dengan mudah). Contohnya, jika ada bendera AS dikibarkan, personil militer wajib menghormat dengan mengangkat tangan di pelipis (seperti kita hormat pas upacara senin pagi dulu di sekolah) namun untuk warga sipil, hanya perlu meletakkan kanan di dada kiri dan membuka seluruh penutup kepala. Sangat simpel, tetapi sangat penting.

Saya sangsi apakah seluruh warga Indonesia mengetahui tata cara memperlakukan "Sang Saka Merah Putih" (oia, nama bendera kita adalah Sang Saka Merah Putih, bukan bendera Merah Putih saja)?

Sebenarnya aturan ini telah ada dalam PP No.40 tahun 1958. Di sana tertera banyak sekali aturan-aturan tentang tata cara memperl
akukan bendera nasional ini. Salah satu contohnya, jika kita melihat pengibaran bendera, personil militer berseragam wajib menghormat dengan mengangkat tangan kanan sampai pelipis, dan untuk organisasi lain sesuai ketentuan yang diberlakukan. Namun jika kita, warga sipil yang tidak berseragam, sebenarnya hanya cukup berdiri tegak merapatkan tangan dengan jari-jari tertutup di samping badan, dan tentunya menghadap bendera.

Simpel bukan? Tetapi saya pernah melihat beberapa kasus teman-teman kita yang menghormat dengan mengangkat tangan meskipun sedang memakai baju-baju bebas (istilah di TN, baju preman). Oke, cukup gagah memang. Tapi dengan melihat style yang tidak seragam itu memang kurang enak dilihat. Pernah juga saya membaca surat pembaca di koran, isinya protes seorang bapak gara-gara saat dia menyetir diberhentikan oleh personil TNI. Padahal jika si bapak itu bisa melihat kondisi dan tahu aturan, saat
pengibaran bendera memang seharusnya memperlambat laju kendaraan, untuk menghormati Sang Saka. Tapi saat kasus itu memang personil TNI-nya yang mengingatkan dengan cara yang kasar.

Agaknya Depkominfo atau lembaga negara yang lain perlu menyosialisasikan hal-hal sepele tapi penting seperti ini. Males banget kan, klo untuk tahu gimana cara ngehormat bendera aja, perlu buka-buka PP yang sangat tebel itu? Dan lagi sosialisasi semacam ini sangat penting untuk diketahui generasi-generasi penerus bangsa ini...