31 Maret 2009

Sebuah Ikrar

....
Kami bertekad, bertekad kan lebih baik lagi
kami bertekad berprestasi lebih tinggi lagi
dengan Rahmat-Mu kami pantang menyerah
kami bertekad wujudkan amanat Prasasti
tunggulah kami dalam reuni di kampus tercinta ini
20 tahun lagi
....
diambil dari:
"Prasasti" (syair: Tarwotjo* ; lagu: Elizabeth E.S.**)

Semoga syair di atas bisa mengembalikan semangat saya dan teman-teman pembaca yang sedang didera efek demotivasisasi (pusing yah??). Istilah saya klo kita sedang mengalami perasaan depresi, males, sakit, dan sodara-sodaranya.

(Ingin berbagi pengalaman)
Iya nih, hari ini sedang mengalami kondisi seperti itu. Saya baru tersadar produktifitas saya menurun akhir-akhir ini. Jadi agak-agak males
dan sering maen game (game yang lagi saya maenin game strategi : Hearts of Iron II). Keren banget boi! Tapi ntar ajalah saya ulas.

Demotivasisasi

Mungkin banyak faktor yang membuat kondisi saya dan mungkin segelintir orang lain jadi seperti ini. Bisa faktor keluarga, lingkungan, akademis, dan lain sebagainya. Namun yang saya rasakan, dan mungkin juga inilah kesalahan besar saya, saat mengalami kegagalan susah untuk berdiri lagi. Ya, saat semester 3 lalu, nilai akademis saya cukup terpuruk. Di situlah saya merasakan gagal segagal-gagalnya. Namun karena tidak saya tangani, efeknya memanjang sampai sekarang. Motivasi saya dalam bekerja dan belajar tidak sekuat dulu.

Unlocking Potential Power
Tadi siang saya membuka-buka sebuah modul pelatihan manajemen diri, training MSQ, yang pernah saya ikuti hampir 3 tahun yang lalu. Saya terenyak melihat sebuah slide yang isinya:
"WASPADALAH...! MALAS akan membuat kehidupan tak bermakna, bila motivasi hidup sudah tak dimiliki, maka sama halnya manusia tanpa motivasi adalah MATI sebelum ajal menjelang"
Tata bahasanya kurang baik, namun maknanya cukup jelas: Motivasi adalah energi manusia untuk hidup, jika motivasi kita sudah tidak ada, tak ada bedanya dengan mobil tanpa bahan bakar, mati...


Duh...ngeri. Saya pun tersadar. Lalu saya membuka lembaran binder masa SMP-SMA. Saya membaca testimonial dr teman-teman saya. Sangat menampar wajah saya! Ternyata selama ini saya telah membohongi "kemampuan tempur" diri saya. Di kertas-kertas kecil itu teman-teman saya menuliskan kelebihan-kelebihan dan kekurangan-kekurangan saya. Ya, dulu saya memang gencar sekali mencari feedback dari orang-orang, ditambah lagi kesan-pesan yang wajib kami kumpulkan sebelum lulus dari SMA. Tulisan-tulisan itupun makin memperbanyak informasi tentang diri saya.
manusia tanpa motivasi adalah MATI sebelum ajal menjelang

Saatnya Berubah (lagi)
Sungguh dahsyat dan bahaya sekali si demotivasisasi ini. Saya bersyukur, tersadar sebelum terlambat. Sekarang sudah saatnya mengembalikan impian-impian yang ingin digapai, mengembalikan kinerja diri seperti sediakala.

Teman, semoga tulisan ini bisa jadi inspirasi. Jang
an sampai terperosok lubang dua kali.

Oia, tambahan, biar makin semangat harus saya pajang foto-foto orang yang menginspirasi saya:
*)Professor, 1st TN Headmaster
**)TN's teacher

06 Maret 2009

Dies Emas...

Teman, tahukah kamu tanggal 2-7 Maret 2009 ada pameran IPTEKS (Ilmu Pengetahuan, Teknologi, Seni) di ITB?

Acara ini sebenarnya merupakan bagian dari rangkaianacara Dies Natalis ke-50 ITB. Acara dies ini lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya karena merupakan dies emas. Selain pameran, rangkaian acara lainnya adalah Opera Ganesha (yang tiketnya gratis tapi udah habis..hiks) dan berbagai macam seminar nasional dan internasional. Untuk lebih jelasnya silakan klik www.itb.ac.id/dies50.

Hmmh....Minggu ini kampus ITB sangat ramai. Penuh orang, penuh barang. Selama rentang waktu dari tanggal 2-7 tersebut tercatat pula ada beberapa event (selain pameran itu sendiri) yang digelar di ITB, yaitu sidang terbuka (acara seremonialnya dies ini), seminar nasional "Pengembangan Kebijakan, Manajemen, dan Teknologi di Bidang Energi dan Lingkungan", serta seminar tambahan dari Metro TV tentang jurnalistik.

Seminar
Saya ikut seminar nasional dan seminar jurnalistik. Seminar nasional benar-benar datang dan menyimak, tapi klo yang seminar jurnalistik itu cuma registrasi doang..hehehe. Seminar nasionalnya menghadirkan beberapa menteri. Pak Rachmat Witoelar, Bu Sri Mulyani, dan Pak Purnomo Yusgiantoro. Tapi sebenernya saya ga tau apakah Bu Sri dan Pak Purnomo datang atau ga, soalnya pas hari kedua ada banyak kuliah, terpaksalah tidak mengikuti seminar di hari kedua. Seminar nasional ini keren. Makanannya enak.Heu...heu (pikirannya makanan melulu). Tapi, sadar atau tidak, menurut saya salah satu parameter bagus tidaknya penyelenggaraan seminar terletak dari konsumsinya loh.
Keynote Address dari Pak Rachmat Witoelar

-back to topic-
Seminar ini bagus. Menambah wawasan peserta tentang energi yang ada di Indonesia sekarang, sekaligus mengenai lingkungan yang sedang terancam saat ini. Sesi diskusinya cukup seru. Yang bertanya kebanyakan peserta-peserta senior. Dan salah satu yang menarik perhatian saya adalah, ada salah seorang bapak pegawai Pertamina yang mengatakan bahwa energi alternatif itu seharusnya minyak dan gas. Bukan angin, panas bumi, dsb. Nah loh? Kebalik banget kan dengan yang banyak diberitakan sekarang ini? Terbyata ini lebih berhubungan dengan paradigma berpikir kita. Jika kita menganggap sumber energi terbaharukan sebagai energi alternatif, berarti migas adalah sumber energi primer. Betul tidak? Nah, dengan menganggap migas sebagai energi primer tentu saja kita akan mengoptimalkan, bahkan memaksimalkan penggunaan migas dulu, Barulah jika sudah mepet-mepet akan habis banget kita beralih ke energi alternatif. Untuk mendasari paradigma tersebut kita harus berpikir, bahwa bumi yang ada saat ini bukanlah warisan para leluhur kita, melainkan pinjaman dari anak cucu kita.
Subhanallah ya...

bumi yang ada saat ini bukanlah warisan para leluhur kita, melainkan pinjaman dari anak cucu kita

Pameran

Pameran dalam rangka dies ini sangat ramai dan menarik. Pihak panitia menampilkan stand-stand industri/bisnis dan karya seni.Tema besar yang di angkat ialah energi, lingkungan, bioteknologi, teknologi informasi, dan industri kreatif. Setiap stand mempromosikan barang-barang penelitian, produksi, hingga barang-barang komersil. Secara umum, pameran di laksanakan di daerah selatan dan tengah kampus.
Berbagai macam instansi pemerintah maupun swasta turut terlibat di sini. Daerah yang menurut saya paling makmur adalah stand perminyakan. Stand yang mewakili ruang kerja BP Migas ini menghadirkan acara presentasi dari berbagai perusahaan minyak dunia yang berinvestasi di Indonesia. Jika kita aktif dalam diskusinya, sering bertanya, dan hoki, maka souvenir-souvenir mereka bisa kita dapatkan. Tercatat saya mendapat 1 binder, 1 kalender lucu, 1 mug, dan 1 notes serbaguna. Kalo ikut presentasinya, seusai acara biasanya dikasih es krim. Dengan atmosfer tenda yang nyaman dan berpenyejuk, stand BP Migas ini betul-betul TOP.

Daerah CC diisi oleh instansi pemerintah dan sponsor. Ada stand Dirjen Cipta Karya PU, Bappenas, Pemprov Jabar, Bank BNI, dll.

Daerah jalan depan CC
kebanyakan diisi oleh industri dan perusahaan lain. Stand-stand yang mengisi daerah ini membuat kesan seolah-olah hari itu sedang diselenggarakan career day, maklum kebanyakan adalah perusahaan komersil yang juga memperlihatkan inovasi-inovasi mereka. Di sana ada stand PLN, PT.PP, PU, LAPI, Tripatra, dan lain sebagainya.

Di daerah Plaza Widya Nusantara, dipasang panggung hiburan. Di hari pertama pameran, tanggal 2 Maret setelah paginya tugas protokoler di Sabuga, ada penampilan Bandos (Band Dosen). Di band itu ada Pa Ofyar, dosen transport saya. Beliau salah satu dosen favorit kami di sipil. Ngajarnya enak dan selalu menstimulus kami untuk berpikir logis, kritis, dan juga bersikap sebagai pemimpin. Saya pernah jadi ketua kelasnya beliau pas tingkat 2. Sore itu beliau menjadi pemain keyboard bersama dosen-dosen dari jurusan lain. Wah, keren juga si bapak!
Pa Ofyar dan tim Bandos-nya yang lagi manggung

Dekorasi dan tata ruang yang ditampilkan di pameran ini pun sangat bagus. Hal ini terbukti dari banyaknya spot foto yang tersebar merata dari pintu gerbang hingga Plawid. Tidak ada satu hari pun tanpa pengunjung yang menjadi "jurig foto" (begitu anak-anak LSS menyebut org2 yang doyan foto). Salah satu spot menarik adalah esai fotografi yang berada di boulevard CC. Gambar-gambar yang ada sangat menarik dan dicetak dengan ukuran besar. Saya pun, tentu saja, tidak melewatkan hasil karya ini untuk diabadikan.






Barudak sipil...(yang di foto jaman dulu juga anak sipil loh!)















Bareng si Upi, dari UPI, temen SD

Demikian reportase saya dari medan "syukuran" ITB. Sayang nih ga dapet tiket Opera Ganesha. Hu...hu...
Semoga dengan adanya DIES ini, ITB jadi semakin lebih lebih lebih baik baik baik lagi dan semua mahasiswanya termotivasi untuk berprestasi lebih tinggi lagi. Amin.

Oia, jadi inget lagu pas SMA. Ntar saya tulis di postingan selanjutnya aah...

02 Maret 2009

Sidang Terbuka DIES NATALIS EMAS ke-50 ITB

Tugas lagi nih...
Hari ini genap 50 tahun ITB berdiri. ITB-nya loh, bukan bangunannya. Bangunan ITB sendiri sudah berdiri sejak tahun 1920. Waktu itu namanya Technische Hogeschool dan pada tahun 1959 akhirnya diberi nama Institut Teknologi Bandung. Untuk memperingati hari jadi ke-50, pada tanggal 2 Maret ini diadakan Sidang Terbuka Dies Natalis ke-50 ITB.

Sebagai salah satu elemen pendukung acara, hari ini seperti biasa tim protokol (dimana saya tergabung di dalamnya) wajib kumpul paling telat jam 7 pagi. Masih tetap di bawah asuhan ibunda tercinta, Bu Anis, yang bener-bener disiplin banget. Pagi ini saya berangkat dari rumah pukul setengah 7 dan, tentu saja, karena waktu tempuh ke kampus rata-rata 30 menit jadinya di jalan ngebut. Pas di pertigaan Dayang Sumbi-Tamansari sudah terlihat tanda-tanda pejabat mau datang (jalan diblokir). Memang rencananya our vice President ini akan memberikan orasi pada sidang terbuka Dies Natalis ITB ke-50 ini.

Kerja kami untuk hari ini memang agak mudah dibandingkan dengan tugas-tugas sebelumnya, soalnya protokoler kepresidenan dan paspampres ikut turun tangan juga. Masalah keamanan, kita sudah tidak perlu khawatir lagi. Penjagaan dan pemeriksaan yang ketat sudah dilaksanakan oleh aparat. Penempatan detektor di pintu masuk pun termasuk upaya pencegahan untuk memastikan kondisi tetap aman. Bahkan, untuk kali ini ID card yang kita pakai pun harus di cap KODIM. Tanda itu cukup menyiratkan bahwa acara ini memiliki level keamanan yang tinggi.


Tugas dimulai...
Untuk tugas ini saya di-plot di bagian VIP. Sebenernya saya yang minta sih, tugas-tugas sebelumnya sering di SB-1 & SB-2. Sekali-kali nyobainlah atmosfer baru. Hehe.
Tapi ternyata tugasnya ga jauh beda sama di SB-1 & 2 (yaaah...kecewa awak), soalnya, ya tadi itu udah banyak yang di-handle sama orang lain (Prot.Neg & Paspampres). Saya dan 3 orang rekan lain hanya mengarahkan tamu-tamu sesuai dengan undangan yang mereka bawa (VIP atau bukan). Tamu VIP rata-rata datang dengan mobil hitam mengkilap (Camry, Fortuner, dan kawan-kawan sebangsanya). Ck..ck..ck...mantap lah ya.
JK datang...
Iring-iringan rombongan wapres akhirnyadatang. Dengan dikawal beberapa motor Polisi Militer, beliau pun disambut oleh tarian dari teman-teman UKSS (Unit Kesenian Sulawesi Selatan), tari daerah dimana JK berasal. Cuman, kasian deh, JK hanya jalan sekilas. Jadinya teman-teman kita ini masih nari walaupun udah ga ada pejabat yang liat.Prosesi...
Mirip-mirip dengan wisudaan, sidang terbuka pun ada prosesinya. Barisan guru besar yang memakai jubah-jubah elegan dan kalung-kalung penuh makna (tapi saya gatau juga artinya apa) dipimpin dengan seorang... (namanya apa ya) yang bawa tongkat dengan patung gajah di ujungnya.
Acara prosesi ini merupakan salah satu adegan favorit saya selama di ITB. Gemerlapnya asesoris guru-guru besar ITB & orang-orang intelektual ini sangat menginspirasi saya. Apalagi jika Mars ITB telah dikumandangkan, bergetar sekaligus bangga. Terlebih setelah prosesi selesai, dinyanyikan pula lagu kebangsaan kita, Indonesia Raya. Semakin luluh lantaklah hati ini mendengarnya.


Acara dilanjutkan dengan pidato dari petinggi-petinggi ITB (nama-namanya menyusul ya...). Selanjutnya pemberian penghargaan bagi orang-orang yang telah berjasa bagi ITB, dan dilanjutkan lagi dengan orasi dari Wakil Presiden Jusuf Kalla. Dalam orasinya, wapres menekankan pentingnya teknologi sebagai sarana pendukung bagi kemajuan ekonomi kita. Beliau pun sempat berkelakar bahwa jika ada sesuatu yang tidak beres dalam kabinet ini, maka pendidikan di ITB patut dipertanyakan, karena 7 dari 26 menteri yang ada adalah alumni ITB.
Setelah selesai dengan orasinya, wapres meresmikan pembukaan rangkaian kegiatan DIES Emas ITB serta menandatangani Sampul Hari Pertama bagi penerbitan perangko bertema DIES Emas ini.

Acara-acara yang cukup formal tersebut akhirnya dipungkas oleh penampilan menawan dari kawan-kawan PSM (Paduan Suara Mahasiswa), KPA (Keluarga Paduan Angklung), dan ISO (ITB Student Orchestra).

Demikianlah acara Sidang Terbuka ITB dalam rangka Dies Natalis ke-50. Semoga dengan Teknologi dan daya saing yang tinggi, kita dapat mencapai masa depang bangsa yang gemilang.
-for the glory of our nation

oia, berikut ada beberapa foto orang penting yang tertangkap kamera saya ;)















Wakil Presiden...



Gubernur Jabar
















???-Saya lupa klo pas pidato-pidato tadi ada pejabat yang lapar..Tapi ko yang dimakan bendera ya?