29 Desember 2009

Museum KAA


Hari ini, mumpung libur, saya ngajak ade buat jalan-jalan. Ke mana? Heheh...
Bukan ke mal, tempat hiburan, restoran, dsb.

Hari ini saya ngajak ade ke Museum Konferensi Asia Afrika. Letaknya di Jalan Asia Afrika. Depan Sarinah (eh,masih ada engga ya?). Dulu gedung ini namanya gedung Concordia.

26 Desember 2009

Tour de Bandung






Libur tlah tiba! Libur tlah tiba! Hore...Hore...Hore

Tiga hari yang melelahkan, sekaligus menyenangkan. Semua ini berawal dari hasrat berpetualang naik sepeda dengan si PiPi (sepeda & pacarku yang sangat setia). Setelah hari Kamis pergi ke Lembang via Dago, dua hari terakhir ini saya jalan-jalan keliling Bandung. Hari Jumatnya nge-goes sendiri, tapi hari ini bareng sama Ijal dan Nuri.

Sebenernya kemaren cuma niat nyepedah ke Sabuga, buat ikut pull up di sana, tapi kondisi lalu lintas Bandung yang lengang (karena libur Natal) bikin saya tertarik buat menjelajah si "Kota Kembang" ini.

Hmm... berhubung jalan-jalannya kemaren dan hari ini, saya gabungin aja dan ceritanya urut tempat aja ya!

23 Desember 2009

Game Saat Muda: HEIST

Kemaren, pas lagi baca paper buat UAS asben, iseng buka-buka CD storage dan nemu CD Heist. Heist (Heist=perampok)?? Ya. Game ini game lama. Produksi tahun 2000 dari Virgin Interactive. Saat memandangi CD game tersebut, sejenak pikiran saya langsung kembali ke tahun 2000-2001. Saat itu saya baru punya komputer Pentium 233 Mhz. Barang second kalo ga salah. Harddisknya cuma 4 GB, dengan RAM 32 MB, tanpa VGA card. Komputer itu dibeli dengan harga 3 juta (wiiih...sekarang 3 juta udah bisa beli PC yg kualitasnya berlipat2 dari itu). Saat ayah saya membeli komputer itu, akhirnya hasrat saya ingin punya komputer terpenuhi juga. Maklum, dari kelas 5-6 SD saya suka ngiler liat kecanggihan komputer. Akhirnya hampir tiap kali ada pameran di Landmark saya kunjungi demi merasakan kecanggihan teknologi dan game gratis yang bisa dimaenin di sana.

Game-game pertama yang mengisi kekosongan harddisk 4 GB saya adalah game pinjeman dari Adhi P.U., temen sebangku di kelas 1i SLTPN 5 Bandung (sekarang katanya dia masuk Akpol, dan tepat hari ini seharusnya udah dilantik jadi perwira). Game yang dia pinjemin salah satunya ya HEIST ini, selain Sonic Adventure, Scud, Virtua Cop, dll.

20 Desember 2009

An Idea: Bandung Green Belt Project

Tadi pagi, sepulang mengantar bapak ke Terminal Leuwi Panjang, tiba-tiba kepikiran sebuah ide buat bikin kota ini semakin seger. Ide ini muncul saat saya menduduki jok "Silika" (Si LeungIt stnK-nama motor supra-x 125 saya) di perempatan tegalega depan Museum Sri Baduga. Saya melihat kondisi jalur lingkar selatan yang sangat panas. Gersang. Mungkin kondisi Bandung yang makin panas ini salah satu penyebab brutalnya oknum bobotoh dan hilangnya pipi merah para mojang Priangan (baca: Kompas Jawa Barat, Sabtu 19 Desember 2009 hal.D - "Sekarang Gadis Bandung 'Tutung Nggheng' ").

Mungkin pemerintah sudah berusaha menanam pohon di sekitar jalan raya, namun sekilas saat saya memerhatikan dimensi pepohonan (lebih mirip semak2 sih),
terutama pepohonan yang berada di median jalan, ternyata kurang bisa menaungi para pengguna jalan . Nah, untuk itu tentunya kita harus menanam pohon yang berdimensi besar. Tapi pasti ngerusak jalan kan??

Oleh karena itulah, saya kepikiran sebuah ide...

Tapi ga akan saya publish dulu ya. Hehe. Doakan saya buat ngewujudin ide itu kawan!



18 Desember 2009

New Year! New Spirit! New Attitude!

Waaaaaah...
Sudah lama tidak menulis di blog ini lagi. Sempet ganti-ganti tema gara2 lagi gundah gulana. Tapi ya, akhirnya saya nulis lagi!

Hari ini hari pertama dalam lembaran tahun hijriah yang baru. Tentunya harus punya semangat baru lagi dong. Semangat buat ngejar nilai, ngejar ilmu, ngejar cita-cita, dan ngejar yang lain.Hehe..

Alhamdulillah akhir-akhir ini banyak kesibukan yang bermanfaat buat saya. Salah duanya adalah jadi asisten & sesepedahan (hobi lama yang muncul kembali). Semoga bisa bikin saya nambah kuat buat mengejar semua impian.Amiin. (oia,hr ini mau nonton 'Sang Pemimpi" juga nih)

Semoga tahun baru dan tahun-tahun berikutnya jadi sesuatu yang penuh berkah bagi kita semua. Amiin

Semangat KAwan!!!

05 Agustus 2009

Dari Deception Point ke Bandung Utara

-Perhatikan daerah di dalam lingkaran merah-

Masih ingat dengan Deception Point? Salah satu novel karya Dan Brown itu?
Nah, tulisan saya yang satu ini merupakan hasil perkawinan dari novel itu dan tadabur alam ke daerah Bandung Utara...

Begini ceritanya...
Waktu pertengahan April klo ga salah. Di tengah hiruk-pikuk persiapan agenda besar LSS ITB. Saya melihat salah satu brosur perumahan di Bandung Utara. Milik anak Planologi. Mereka kayanya dikasih tugas ke lapangan gitu, jadi ngumpulin brosur-brosur perumahan. Perumahan di daerah selatan atau di luar kota sih mungkin biasa, tapi ini di Bandung Utara! Udah sebegitu rentannya tapi masiiih aja dibangun beton. Sebagai orang sipil harusnya sih saya seneng gara-gara banyak proyek, tapi klo udah menyangkut lingkungan...yah, harus concern juga dong.

02 Agustus 2009

Up !

Setelah tidak sempat nonton Ice Age 3 di layar lebar, akhirnya nonton juga film animasi lain.

Up

Bukan singkatan.

Diajak nonton sama "pemilik" blog ini yang gereget banget pingin nonton.

Up ini film animasi yang menjadikan manusia sebagai tokoh utamanya. Akhirnya, bukan mainan (Toy Story), mammoth (Ice Age), ataupun lebah (Bee Movie) yang menjadi sorotannya. Karakter fisik tokoh-tokohnya lucu-lucu. Gendut, chubby (gembil), ngegemesin pokonya. Nonton film ini pun bagi saya serasa nostalgia waktu dulu aktif di Pramuka. Soalnya salah satu tokohnya, yaitu si Russel, adalah seorang bocah Pramuka yang senang mengoleksi lencana/badge. Klo di Pramuka Indonesia namanya TKK (Tanda Kecakapan Khusus). Hehe. Hapal ya? Soalnya dulu juga saya termasuk pemburu TKK. Keren sih soalnya klo dipake.

01 Agustus 2009

Deception Point


Deception Point: Salah satu dari empat buku karangan Dan Brown. Terbit di Indonesia sejak tahun 2006...

Memang telat sepertinya untuk membuat review buku ini. Tapi, jujur, saya sangat tertarik terhadap ceritanya. Baru kali ini juga loh saya baca buku yang begitu kakunya. Bukan kaku alur ceritanya, tapi kertasnya kaku. Buku ini saya pinjam dari seorang saudara yang tinggal di ibukota, yang pernah menjadi korban banjir besar di tahun 2007 klo ga salah. Alhasil semua buku miliknya pun terendam. Padahal koleksi buku teteh saya itu banyak banget. Si buku Deception Point ini juga mau ga mau jadi korban.

10 Mei 2009

It's Not A Promotion

I found this company when I was reading its advertisement on ASCE magazine that published in 2004 (I read old magazine, of course, because there is no latest issue in our department's library-it means no update!).

Their advertisement is interesting. Why?
The illustration, of course...


It's Hayward Baker, a geotechnical construction company. 
Those images represent their work. Unique, isn't it?


Once again, it's not a promotion...


05 Mei 2009

ITB "Wangi"

Kemarin (4/5) saat saya menuju ruang kuliah di gedung Sosioteknologi, tercium bau menyengat yang amat sangat sangat bau banget pisan! Eeeeuugh...ga kuat baunya. Aroma pesing tersebut mulai tercium saat melewati gedung UPT Bahasa/Elektro bawah. Saya menduga bau tersebut berasal dari WC atau septic tank yang bocor. Saat memasuki ruang kelas Technical Writing pun bau tersebut belum hilang, bahkan masuk ke dalam kelas. Saya pun berinisiatif izin ke luar kelas dan menuju kantin bengkok untuk menikmati sebotol frutcy dan udara segar di sana.

Sebetulnya sejak minggu lalu bau tersebut sudah meneror kami, hanya saja saat itu belum separah kemarin. Mungkin karena tidak tahan dengan baunya, dosen kami pun akhirnya menyuruh kami ke perpustakaan untuk mencari iklan lowongan kerja dan membuat sebuah application letter serta curiculum vitae. Pada awalnya sih sang dosen hanya memerintahkan kami apa adanya, seolah-olah memang beliau sudah merencanakan tugas itu. Tapi, pas akhir-akhir ketahuan juga, beliau memberi tugas itu karena ingin segera angkat kaki dari daerah "tak terhankan baunya" itu. Sebelum keluar, beliau mencak-mencak:

02 Mei 2009

Sabuga Berubah Menjadi Toko Buku!

Kegiatan hari ini:
-Seminar jurnalistik CRAYON
-Kuliah Umum Inovasi dalam Geoteknik dari Pa Masyhur
-Asistensi software apaaaa gitu dari B'Dimas
-Jalan-jalan ke Kompas Gramedia Fair di Sabuga
-Liat-liat pameran di Landmark
-Makan-makan Sipil TN ama B'Pram

Kenyataan hari ini:
-Bangun telat...jadinya telat ikut seminar jurnalistik
-Ga ikut sama sekali kuliah umumnya
-Pas asistensi tidur
-Tidur siang di Salman
-Ke KGF sama Dadan
-Ga jadi ke Landmark
-Makan-makan tetep jadi dooong...haha (Thx B'Pram!)☺

Hari libur yang penuh kegiatan di kampus. Cuma alhamdulillah bermanfaat semua, tinggal gimana cara kita memanfaatkannya (dengan tidur kaya tadi atau...).

Yah, begitulah kehidupan saya hari ini. Yang paling menarik dan ingin saya ceritakan ialah mengenai acara Kompas Gramedia Fair 2009 di Sasana Budaya Ganesha, Bandung. 

29 April 2009

Cerita Penjual Jagung Bakar

Sedang fokus-fokusnya mengerjakan tugas baja, tiba-tiba...

"Jaguuung...
Jaguuung bakaaaar..."
Suara seorang laki-laki tua memecahkan keheningan malam. Sumber suara itu melintas di depan rumah kami, lalu perlahan-lahan mulai mengecil, menjauh. Namun, entah kenapa saya tiba-tiba beranjak dari tempat belajar, bilang sama ibu mau beli jagung bakar, lalu mengejar sumber suara tersebut.

"Mang, meser jagong..."
"Oh, sabaraha jang?"
-belum saya jawab-
"Bumina nu mana?"
"Eta nu di pengkolan, nu tembok bodas"

Dari percakapan di atas ada beberapa informasi yang bisa kita dapat:
-saya mau beli jagung bakar
-si penjual sudah berjalan cukup jauh dari rumah saya
-dia berharap saya membeli banyak, karena ngeliat saya rela mengejar dia dengan jarak sejauh itu



Saya pun kembali ke rumah diikuti si emang itu. Sampai di rumah:

"Neng, mau jagong?"
"Ngga."
"Ade, mau?"
"Enggak."
"Kalo Ibu, mau jagung ngga?"
"Ngga"

waaaaa...sugan teh, pada mau. Walaupun saya sebagai pembeli dan memiliki bargaining position yang tinggi, jadi asa ga enak juga euy ka si mang jagong. Yasudahlah.

Akhirnya, bener juga, penjual jagung tersebut nawarin buat ngabisin dagangannya. Ada enam jagung yang tersisa. Akhirnya, dengan beberapa pertimbangan yang datang dari hati, saya memutuskan beli empat jagung seharga Rp. 6000,00. Terus, adik-adik saya pada keluar, bukan mau mesen, tapi mau nonton si emang ngebakar jagung. Lalu, adik saya yang paling besar, yang lagi UN SMP, ngobrol dengan penjual jagung tersebut. Saya sendiri masuk ke dalam rumah.

Adik saya pun masuk juga setelah beberapa lama. Dia bercerita:

"A, si emang kasian tau..."
"Kenapa gitu?"
"Katanya teh...(bla...bla..bla)"
...

Dari percakapan tadi, saya pun tahu klo si emang membawa jagungnya itu (asli) dari Lembang. Dia dapat dari anak-anaknya yang tinggal di sana dan dia jual di sini (daerah Bandung Tengah agak selatan). Bukan anaknya yang mengantar jagung-jagung tersebut, tapi dia sendiri yang berangkat ke Lembang. Dan, hari ini, sejak pukul 4 sore, dia menjajakan jagung yang ia akui jumlahnya relatif lebih sedikit dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya. Kenapa sedikit? Katanya malu, soalnya jagung yang ini kebetulan kecil-kecil, jadi dia jual sedikit saja.

Hmmm...
Asa malu sama diri sendiri. Ternyata kita bisa banyak belajar dari lingkungan di sekitar kita. Banyak sekali. Seperti contoh di atas. Mungkin sebagian orang ada yang berpendapat, klo hal tersebut adalah kewajaran, ada orang yang susah, ada orang yang senang. Tapi, bagi saya sendiri, suka ada yang "bergejolak" di hati klo denger-denger cerita seperti ini. Melihat contoh nyata sebuah kerja keras, kesabaran, dan ketangguhan seorang manusia dalam menghadapi kehidupannya.

Sama halnya dengan sebuah contoh lain, waktu saya dan Ibu beli sate tahu di belokan Reog, Turangga. Ada seorang kakek-kakek yang berjualan baso tahu dari Cicadas (rumahnya) hingga Talaga Bodas, dan transit malam harinya di daerah Reog. Betapa jauhnya jarak yang ia tempuh. Lalu, setelah ibu ngobrol lebih jauh lagi, kami tahu ternyata si kakek memiliki anak-anak yang (saya simpulkan) sudah mapan dan logikanya bisa menghidupi si kakek. Lalu kenapa si kakek masih berjualan baso tahu dengan medan sejauh itu? Dia menjawab dengan simpel, "Jika kita masih bisa bergerak dan berusaha, kenapa harus diam? Rezeki itu harus kita cari, ini yang namanya perjuangan" (kata-kata ini saya rekonstruksi ulang tanpa menghilangkan makna, mengingat kejadiannya sudah lama).

"Jika kita masih bisa bergerak dan berusaha, kenapa harus diam? Rezeki itu harus kita cari, ini yang namanya perjuangan"


Cerita-cerita di atas bagi saya cukup memberikan beberapa kesimpulan:
1. Bersyukur, alhamdulillah kondisi saya tidak sesulit yang dialami orang-orang tersebut.
2. Kerja keras, diperlukan agar dapat mengatasi segala macam tantangan dalam hidup ini. Bisa jadi dengan kondisi kita yang lebih baik dari orang-orang tersebut, ternyata Allah menyiapkan tantangan yang jauh lebih besar bagi kita.
3. Berprinsip, harus dimiliki, agar bisa bertahan dalam perjuangan.


Semoga tulisan ini bisa menjadi inspirasi bagi kita dan bisa mengubah ke arah yang lebih baik lagi. Amiin.


Oia, akhirnya adik-adik saya tergoda juga buat makan jagung bakar itu..Huh!


28 April 2009

Salman: My Second Home




When you have something wrong in your life, just go inside...
When you have terrible feeling, just go inside...
When you need some fresh air for your mind, clean water that freshen your spirit, just sit and pray inside...
Inside it...Salman

It's a mosque in our campus. I met him, for the first time, when I was asked by my friend in junior high school to accompany him to ITB. And when I entered ITB as a student, I found that Salman wasn't just an ordinary mosque.

In my early life in ITB, I spend most of my time in Salman and I got some 'first friend' there. Moreover, when I decided to join an organization under Salman's authority, I got more friends that would be my best friends. I won't forget them, because they were inspired me to be a dilligent & hard worker student in my first year at ITB. For example, one of them have a daily activity by visiting library. He always borrow a thick, boring (in my mind), english textbook (usually Math, Chemistry, and Physics) and put them in his backpack. Once I saw him (he seems like a turtle and walk crooked) doing his activity, I was impressed. I was jealous by his spirit of study and also embarassed because I used to be a "loyal" library visitor too when I was in high school. Because of that, I declared to my self, I will study hard (again), get as many as knowledge I need, no matter if I should do the turtle walk too (because carrying many books on my back). So, in my next sophomore year and until this third year in campus, I always visit the library, even it located in far-far away land from my "green area" at Civil Engineering Dept.


Oia, another advantage I got from this friendship is, I always remembered to be a good moslem, which should have a good attitude to God, people, and other God's creature.

Nice Place to Study and Great Place to Refresh Our Spirit


Salman and its atmosphere is very conducive to great productivity. Imagine you are reading a book, review the last class materials, or conduct scientific discussion with your friends in a fresh air and accompanied by soft-noise from bird's twitter and chirped cricket... That's why Salman also functioned to be an activities center instead its primary function as a mosque to serve and fulfill moslem's religious needs.

Almost everyday I spend my time in Salman. I always study and take a rest in there (instead of pray of course), especially when I was in first year. I made it to be my basecamp because usually my class schedule didn't continuous in one day, so I can take a nap for a while. I believe, one of many factors that caused I got a flying mark in my first year is a perfect blend of my study and religious activity in Salman. Unfortunately, when I was sophomore, my mark is "cooling down". And in that "depression era", I often make Salman as a place to cry and replenish my spirit. Now, in this year of study, I tried to get back my precious achievement by approaches Salman again. Amin.

Get Yourself Toward Salman
When I was preparing my departure to study
at TN High School for 3 years, my closest neighbor, whom I regard him as my father, said:

"Wherever you are, whatever your activities, get yourself closer to the mosque, do not forget it!"

Such a simple admonition, but has a deep meaning...

Yes, when we are close to the mosque, we also close to Allah SWT, which means we will (insya Allah) always under His Mercy.

So as a mosque, Salman should be a place that we paid attention to. Especially by an ITB students.

Last, based on my experience, I suggest, if you are in the first year study at ITB, at least you should make Salman as your initial "environment" which will provides you the basic principle to face a tough life in ITB...
"Wherever you are, whatever your activities, get yourself closer to the mosque, do not forget it!"



I hope this article can inspire you and re-inspire & recall the memory of author about it
Amiin .

07 April 2009

Tentara Langit Itu Pun Jatuh...

Baru kemarin kami disuruh mencari tahu tentang kecelakaan-kecelakaan di udara saat kuliah Kapita Selekta oleh Pak Harmein. Mungkin (karena belum saya kerjakan sepenuhnya) agar kami dapat menganalisis dan menyimpulkan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kecelakaan-kecelakaan tersebut. Kuliah selesai pada pukul 13.00, namun ternyata saat itu juga di kota yang sama, di tempat yang berbeda, musibah naas berlangsung. Pada pukul 13.00 tersebut terjadi kecelakaan pesawat yang menewaskan 24 prajurit TNI AU, 18 di antaranya adalah instruktur dan siswa Pendidikan Kualifikasi Khusus Para Lanjut Tempur Angk. XXXIII (Kompas, 7/4).

Sungguh suatu kehilangan besar bagi Indonesia dan institusi TNI. Menurut keterangan (Kompas), para korban adalah anggota Pasukan Khas TNI AU (satu dari sekian banyak pasukan khusus yang dimiliki TNI). Ya, pasukan khusus, merupakan para prajurit yang terpilih. Kini kita kehilangan mereka.

Kecelakaan Udara
Sudah banyak kecelakaan pesawat yang terjadi di Indonesia. Penyebabnya bermacam-macam, bisa faktor teknis maupun human error. Yang ingin saya soroti, kecelakaan yang menimpa TNI AU. Dalam hal ini coba kita lihat posisi TNI AU sebagai penyelengara penerbangan yang sejajar dengan maskapai-maskapai komersil lainnya. Kecelakaan pesawat komersil, seperti Adam Air yang jatuh di perairan Majene, Lion Air yang tergelincir di Surabaya, menunjukkan kesalahan dari faktor manusia dan persiapan teknis. Namun lihatlah kecelakaan yang menimpa TNI AU kita, kebanyakan dari faktor teknis, dan jika diperluas lagi faktor teknis itu berupa usia pesawat. OV-10 Bronco yang sudah berkali-kali jatuh (yang terakhir malah menimpa alumni TN, Bang Eli dan Bang Harcus) bukan gara-gara buruknya maintenance pesawat - saya yakin dengan disiplin yang tinggi, tidak mungkin personil TNI mengabaikan tanggung jawab - namun dikarenakan usia pesawat. TNI AU rata-rata memiliki pesawat yang sudah tua dan sudah lewat masa operasinya. Masa operasi pesawat dibatasi, 25 tahun untuk pesawat sipil dan 20 tahun untuk pesawat militer (F Djoko Poerwoko, Kompas (7/4)).

Pengadaan alutsista seperti pesawat tempur, pasti menyangkut dengan dana. Masalah dana atau finansial ini memang merupakan permasalahan kompleks. Di tengah usaha kebangkitan Indonesia dari krisis yang melanda, permasalahan perangkat pertahanan dan keamanan ini kembali menghadapkan kita kepada sebuah pilihan klasik: "bullet or butter". Artinya, apakah kita akan memprioritaskan hankam atau kesejahteraan internal negeri ini.

Kompleks...sangat kompleks memang.

Semoga Indonesia dan TNI kita dapat menjadi lebih baik. Mari berikan yang terbaik di mana pun kita berada!

Selamat jalan para "Tentara Langit"!
Semoga Allah memberi tempat yang terbaik dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.
Amin.



05 April 2009

Hearts of Iron 2 : Doomsday

Sudah lama saya ingin nge-post artikel tentang game ini. Cuma hasrat untuk nulis dikalahkan hasrat maen game itu sendiri. Tapi akhirnya saya tulis juga nih, biar puas, bagi-bagi keenakan, soalnya klo melakukan sesuatu yang bikin “enak” sendirian kan dosa (loh???).

Game ini keluaran tahun 2006 dan saya beli tahun itu juga di salah satu tempat game-game bajakan di Bandung. Jangan salah ya, saya ngga beli di Empire (baca:emperan), tapi di toko (udah punya cabang pula). Herannya toko ini kayanya ga pernah kena razia (ada apa gerangan?). Cuma lucunya di pintu depan toko ini ada tulisanyang kurang lebih seperti ini: “Tidak menjual produk apapun dari Microsoft “. Mungkin teman-teman yang sering beli CD/DVD bajakan tahu toko ini. Yah, tulisan itu menandakan baru Microsoft yang aware terhadap piracy activities di Indonesia. Software vendor lainnya ngga. Atau mungkin malah software/programmer yang lain sudah paham dan mengerti bahwa rata-rata orang Indonesia tidak dapat menjangkau harga software yang begitu mahal. Logikanya, lebih baik beli hardware ketimbang software klo harganya ngga beda jauh. Nah, oleh karena itu software vendor/programmer ini dengan baik membiarkan pembajakan terus berjalan dan menyerahkan urusannya kepada polisi. Wallahualam.

Kembali ke “Hati Baja 2: Hari Kiamat” (translate maksa). Game ini ber-genre strategi. Bener-bener strategi, jangan salah. Jika kita langsung berpikiran mirip-mirip Age of Empire, Praetorian, dsb., salah besar! Game ini bener-bener strategi (lagi). Buat yang ngga biasa, interface-nya ga menarik sama sekali, saya pun merasa begitu saat main untuk kali pertama. Tapi saya tidak merasa rugi, toh 1 CD itu saya dapatkan gara-gara bonus karena sudah membeli 10 CD sebelumnya, lagian coba-coba pa salahnya kan? Hehe. Layar utamanya hanya berupa peta dunia besar lengkap dengan propinsi/kota-kotanya. Nama-nama geografi-nya akurat dan presisi (waduh, jadi inget tes awal prak. Fidas). Aslinya simbol-simbol unit pasukan hanya berupa bidak-bidak kecil tak bernyawa (2D statis) namun pada HOI 2 ini, ada pilihan untuk diubah jadi bidak beranimasi. Sekali lagi, klo kita hanya melihat dari segi interface-nya, game ini TIDAK MENARIK.

Isi Game yang Sangat Kompleks


Saya baru tertarik saat mengetahui kompleksnya game ini. Klo kita biasa mengenal strategi cari uang-bangun-perang –nya Age of Empire atau Warcraft, di HOI ini: cari uang pake otak-bangun pasukan pake otak-perang pake o
tak-mau menang?pake otak dong!...nah makanya, biasanya klo abis maen game ini saya sering sakit kepala. Pusing bukan main. Untungnya masih ada persediaan vitamin/multivitamin di rumah, jadi setelah maen game langsung recovery deh. Klo engga minum susu dulu terus tidur (hehe..maaf ngiklan dikit). Biar lebih sistematis saya jelasin per bagian ya…


Aspek Geografis dan Historis
Jelas game ini direncanakan dengan sangat baik dengan memperhatikan detail. HOI 2 ini termasuk game based on history. Mungkin mirip-
mirip Brother in Arms. Game perang dengan akurasi sejarah yang menawan. Tanggal, peristiwa, dan tempat dalam HOI 2 ini sebagian besar sama. Peristiwa-peristiwa yang akan terjadi, tergantung dari “sepak terjang” kita. Misal jika kita jadi Jerman, terus mulai membangun pasukan dengan jumlah yang besar, akan muncul peristiwa penandatanganan poros Berlin-Tokyo-Roma. Atau pada tanggal tertentu (based on history), akan ada opsi yang ditawarkan pada kita. Contoh lagi, pada tanggal XX-bulan X-tahun XXXX, saya lupa, saat terjadi pemberontakan di Spanyol, kita akan ditawarkan membantu Spanyol Republik atau tidak (artinya:membantu Spanyol Nasionalis). Jika ya, Jenderal Franco Francisco Bahamonde akan menerima bantuan suplai logistik, uang, dan pasukan dari kita. Akhirnya, peristiwa itu akan menyeret kita mendekati situasi perang (belligerence-nya bertambah), klo kita main sebagai Jerman loh.

Detail geografinya pun cukup bagus. Battlefield-nya yang berupa peta bumi dibagi-bagi ke dalam provinsi-provinsi yang sangat sesuai dengan negaranya. Main game ini bisa menambah wawasan geografi kita!


Tokoh-tokoh

Pelaku utama dalam game ini tentu saja kita. Namun kita harus memilih salah satu negara untuk di-manage. Perwira-perwira tingginya, petinggi-petinggi negaranya, dan tim risetnya sangat akurat! Sangat detail. Semua yang ada di game ada juga dalam sejarah, beserta track recordnya. Jika teman-teman pernah membaca sejarah PD 2 pastilah kenal Erwin Rommel, Heinz Guderian, Montgomery, Patton, atau Terauchi. Mereka adalah jenderal-jenderal Perang Dunia II. Ribuan tokoh sejarah ada di game ini. Dan menariknya, kitalah yang menentukan karir mereka. Memilih jenderal dengan spesialis tertentu untuk pasukan tertentu dan mencocokan spesialisasinya itu untuk berbagai macam misi akan sangat membantu dalam peperangan. Track record pertempuran pun mereka pun ada di sini.


Unit Pasukan
Ada tiga jenis pasukan: Darat, Laut, dan Udara. Setiap unit sangat detail. Merepresentasikan negaranya. Contoh Jerman, ada unit Panzer (dan jenis tanknya benar-benar sesuai sejarah, Tiger, Panther, dsb.), Fallschirmjagger (pasukan terjun paying/komando), Fighter Messercshmit, dan berpuluh-puluh unit tempu
r serta brigade-brigade lain. Uniknya tiap divisi pun punya nama yang berbeda. Divisi Infantri ke-1, Divisi Panzer SS, 101st Airborne, Kriegsmarine, dll. Beribu-ribu namanya.


Memimpin Negara
Ada 5 Bar utama yang terletak di bagian atas. Dari situlah sebagian besar pengelolaan negara yang kita mainkan dimulai. Teknologi, diplomasi, intelijen, dan produksi, serta kita dapat melihat perkembangan perang dan game dengan sangat lengkap di bagian statistik. Yup, game ini tidak hanya ditentukan oleh kemampuan tekn
is dan taktis pertempuran namun kuga dari banyak faktor strategi lainnya. Menyusupkan mata-mata, meng¬kudeta sebuah negara, mencuri teknologi musuh, mempengaruhi negara lain, mendeklarasikan perang, perjanjian damai, membangun industry, memilih menteri-menteri, dan aksi-aksi lainnya yang berkontribusi terhadap perjuangan negara kita.


Teknik Bertempur
Game ini juga melatih otak kita dalam menyusun strategi. Berkali-kali lipat dari strategi yang harus disiapkan dalam bermain catur. Banyak faktor yang menentukan kemenangan kita di lapangan. Contohnya medan tempur, akan sangat
sulit jika kita bertempur di pegunungan, saat malam hari, saat cuaca buruk, dan saat musim salju. Perang kota pun akan sangat sulit terkecuali kita memilih jenderal yang bertitel Urban Warfare Specialist untuk memimpin divisi pasukan kita.
Awalnya saya juga kesulitan dalam memainkan game ini. Pertama kali main, dengan difficulty normal. Saya kalah telak (saya main sebagai Jerman, soalnya ada sensasi tersendiri jika kita dapat memutarbalikkan sejarah). Akhirnya sejak saat itu saya maen pake cheat (hehehe). Tapi lama kelamaan saya belajar taktik dari situ. Saya coba bermain normal tanpa cheat, dan hasilya…saya bisa!

Intinya setiap detik sangat berharga untuk menentukan strategi jitu. Makanya maen game ini pasti lama. Pause dulu untuk nyusun strategi, baru maen lagi, terus pause lagi, terus lanjut lagi. Begitulah seterusnya. Di game ini pun saya jadi tahu taktik-taktik militer: ambush, counterattack, breakthrough, encirclement, dll. Akhirnya saya pun punya taktik tempur favorit saya. Mundur teratur, potong jalur suplai, dan HABISI! Ya, klo musuh terkepung di satu provinsi, divisi mereka akan hancur lebur, hilang. Beda jika kita bertempur biasa. Jika kalah maka akan ada opsi retreat. Mundur namun divisinya tetap ada, hanya perlu reorganisasi. Biasanya saya pake strategi ini untuk menghadapi negara yang mengandalkan kekuatan darat seperti Uni Soviet. Negara ini sempet bikin kesel. Waktu saya maen sebagai Jerman dan sedang menghadapi front barat melawan Prancis dan Inggris, sekonyong-konyong si Red Army ini mendeklarasikan perang sepihak. Sialan betul kan?


Ada Indonesia!
Inget foto-foto di bawah ini? Mereka adalah pahlawan nasional kita Teman! Pemimpin-pemimpin Indonesia.
Ya, semua negara yang saat PD II
berlangsung telah berdiri, ada di game ini. Jenderal Sudirman, Bung Karno, Moh. Hatta, dan jenderal-jenderal serta menteri-menteri Indonesia saat itu beraksi di HOI 2 ini. Provinsi-provinsinya pun sama! Tentunya sesuai kondisi saat itu. Research teamnya pun ada Universitas Indonesia, Akademi Militer, AAL, dll. Saya pernah mencoba memainkan Indonesia. Terbayangkah negeri kita terbentang dari Madagaskar sampai West Coast-nya Amerika? Di game ini bisa! Indonesia pun menguasai Australia. Dan saya sangat puas saat melihat di track recordnya Field Marshall Abdul Harris Nasution: Lead the winning attack on San Franciscoinvolving army group sized force that occurred between September 12, 1950 and September 15, 1950 against United States
(Beeeuuh..keren pisan Cuy!)


Kelebihan lainnya terletak pada fleksibilitas game ini. Game ini bisa kita edit baik tokoh-tokohnya maupun scriptnya. Kenapa saya edit? Ada kekurangan dalam game ini. Data historis untuk negara-negara baru merdeka seperti Indonesia, Malaysia, dan lain-lain tidak lengkap. Tim developer sepertinya asal saja dalam menelusuri fakta sejarah negara-negara tersebut. Masa Prabowo ada pas PD II? Terus jenderal-jenderalnya pun kecampur sama jenderal Belanda. Nama-nama divisinya pun nama Belanda. Ngga rela kan pasukan kita dipimpin Ter Poorten atau van Oyen? Akhirnya saya edit foto-foto temen2 saya yang lagi belajar di Akademi TNI, saya bikin grayscale, dan saya jadikan mereka jenderal-jenderal Indonesia. Saya juga ngedit foto saya, dan saya tempatkan sebagai menteri dan kepala staf. Hehehe. Field Marshall Hamid Ghani…keren kan?

Oia, saya juga sempet ikutan di forum HOI 2 ini di Paradox Plaza (Paradox adalah developer game ini). Saya sempet dikasih email tentang perekrutan beta tester (pengetes game) untuk HOI 3. Saya daftar dengan spesialisasi Historian (soalnya mau nambahin data2 yang ga bener tentang Indonesia). Tapi saya gagal. Heu…


Ready for the next war?
Pokoke keren abislah. Bagi yang suka strategi sih. Musiknya juga mantap. Karya Andreas Waldetoft. Heroik banget lah.
Intinya...
Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari sini. Wawasan kita tentang sejarah, geografi, dan tokoh dunia bertambah. Juga sebenarnya game ini mengajarkan bahwa segala ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan dapat kita atasi dengan perencanaan yang matang dan strategi yang jitu. Hal itu berlaku pula di kehidupan nyata. Bagi yang tertarik, cobalah! Dan tunggu HOI 3 yang rencananya akan keluar tahun ini!



03 April 2009

Saat Peuyeum Diproduksi di Amsterdam


Introduction

Negeri Belanda atau Holland Bakery adalah sebuah negara maju di benua Eropa yang telah menjadi salah satu pusat ekonomi, industri, dan teknologi di dunia. Salah satu produk terkenalnya, yaitu Hollanda Choco Bear terbukti telah menyihir sebagian besar warga dunia sehingga mereka rela pergi jauh-jauh dari negerinya menuju The Netherlands, bukan hanya untuk menukarkan bohlam Phillips yang pecah atau hanya sekedar minta garansi handycam JVC, namun untuk menimba ilmu, mencari penghasilan, serta berinteraksi untuk menciptakan network yang kuat dalam pekerjaan mereka yang pada akhirnya akan membawa benefit bagi dirinya masing-masing.

(waduuh…maafffh, error tak tertahankan, semoga tidak ada yang merasa dirugikan…, yang merasa diuntungkan karena sudah diiklankan dimohon doanya biar saya menang di kompetiblog ini ;) hehe..peace… )

Global Competition/Global Rivalry

Di zaman yang serba canggih, serba otomatis, dan semakin didominasi oleh teknologi ini, telah menjadikan dunia kita menjadi dunia yang tanpa batas. Interaksi yang dahulu dilakukan setiap orang (bahkan hanya dalam lingkup daerah) sangat terbatas, saat ini hampir tiada batas!

Salah satu dampak yang sangat signifikan adalah munculnya persaingan global. Dengan tiadanya batas yang menghalangi orang-orang untuk berinteraksi dan bersaing, timbullah efek tersebut.

Persaingan, bisa bermakna positif maupun negatif. Tergantung kita menyikapinya. Jika kita cukup bijak, dewasa, dan penuh persiapan, persaingan akan menguntungkan dan semakin melejitkan potensi kita. Sebaliknya, jika kita tidak punya persiapan apapun untuk bersaing, dia akan membunuh kita.

Global Community

Menurut saya, untuk membuat persaingan global menjadi positif itulah kita perlu apa yang dinamakan global community. Pasti inget kan, lebih susah mematahkan satu iket sapu lidi dibandingkan satu batang Poki-Poki rasa coklat…(yah, maksudnya kerja bareng menghasilkan kekuatan yang lebih daripada kerja sendiri-sendiri – jangan terlalu serius ah…hehe). So, a community can help us to achieve something faster, easier, also can help us to protect ourself from devastated power. Untuk menembus persaingan global ini, serta bertahan dari efek buruk yang ditimbulkannya, kita memerlukan sebuah komunitas, tidak cukup hanya komunitas RT/RW atau kelurahan, namun sebuah komunitas global dimana kita bisa saling belajar, bertukar pikiran, dan saling menghargai sehingga persaingan global ini menjadi sebuah ajang positif untuk meng-upgrade diri kita dan memacu negeri kita agar sejajar dengan bangsa-bangsa maju lainnya.

How to enter global community?

Teman, tentunya paragraf pertama di atas cukup menjawab pertanyaan ini. Belanda adalah salah satu dari sekian banyak negara maju yang menyediakan fasilitas untuk “belajar” dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks. Kondisi multination sekaligus multiculture negara tersebut diharapkan dapat menjadi sebuah simulasi bagi kita tentang bagaimana bersikap dan menyikapi persaingan global ini. Dengan kata lain, memasuki negeri Belanda (dan tentu saja di sana bukan hanya minta garansi handycam JVC! - keukeuh...) dapat memberikan kita sebuah kesempatan besar untuk bergabung dalam sebuah komunitas global.

Dan terbukalah peluang untuk membuat pabrik peuyeum di Amsterdam…(smile!)


Ingin langkah awal??

klik-di sini




02 April 2009

Cara Menghormat Bendera


Kemarin, di rabu pagi yang cerah dan tidak ada kuliah, saya berkunjung ke American Corner di Perpustakaan Pusat ITB. American Corner adalah sebuah ruangan yang dibangun atas bantuan pemerintah Amerika Serikat. Jika Sampoerna Corner adalah salah satu bentuk CSR dari PT. Sampoerna lewat Sampoerna Foundation-nya, AmCorn ini mungkin kurang lebih sebuah perwujudan usaha Amerika untuk memperlihatkan bahwa negaranya "cinta damai" dan "menjunjung tinggi" HAM. Soalnya, buku-buku yang ada di AmCorn ini sangat beragam mulai dari sejarah bangsa AS, politik, sains, teknologi, hingga majalah-majalah hiburan yang cukup ter-update. Dan yang pasti, buku-buku itu sangat subjektif, memperlihatkan kekuatan Amerika dari segi ekonomi, politik, dan teknologi. Namun, jika kita cukup bijaksana dalam memilih bacaan dan menyaring isinya, berbagai macam pengetahuan bisa kita dapatkan juga. Salah satunya yang saya baca kemarin.

Setelah puas melihat-lihat buku bergambar tentang tragedi 9/11, saya melihat sebuah buku kecil (lebih mirip buklet tepatnya), judulnya "Our Flag". Dengan desain yang simpel dan unik (dan fullcolour tentunya), saya pun tertarik untuk membacanya. Membaca di tempat, sambil berdiri. Buku itu menerangkan sejarah dan cara memperlakukan "The Star Spangled Banner", bendera Amerika. Saya pun baru tahu bagian-bagian bendera di sana, ada bagian yang bernama hoist (tinggi bendera) dan fly (lebar bendera).

Namun yang membuat saya terenyuh adalah petunjuk memperlakukan bendera. Di sana tertera dengan jelas ilustrasi-ilustrasi cara menghormat, membawa bendera dalam setiap kondisi, cara meletakkan bendera, dan lain-lain secara detail dengan menarik (karena berwarna dan bergambar, anak kecil pun dapat memahami dengan mudah). Contohnya, jika ada bendera AS dikibarkan, personil militer wajib menghormat dengan mengangkat tangan di pelipis (seperti kita hormat pas upacara senin pagi dulu di sekolah) namun untuk warga sipil, hanya perlu meletakkan kanan di dada kiri dan membuka seluruh penutup kepala. Sangat simpel, tetapi sangat penting.

Saya sangsi apakah seluruh warga Indonesia mengetahui tata cara memperlakukan "Sang Saka Merah Putih" (oia, nama bendera kita adalah Sang Saka Merah Putih, bukan bendera Merah Putih saja)?

Sebenarnya aturan ini telah ada dalam PP No.40 tahun 1958. Di sana tertera banyak sekali aturan-aturan tentang tata cara memperl
akukan bendera nasional ini. Salah satu contohnya, jika kita melihat pengibaran bendera, personil militer berseragam wajib menghormat dengan mengangkat tangan kanan sampai pelipis, dan untuk organisasi lain sesuai ketentuan yang diberlakukan. Namun jika kita, warga sipil yang tidak berseragam, sebenarnya hanya cukup berdiri tegak merapatkan tangan dengan jari-jari tertutup di samping badan, dan tentunya menghadap bendera.

Simpel bukan? Tetapi saya pernah melihat beberapa kasus teman-teman kita yang menghormat dengan mengangkat tangan meskipun sedang memakai baju-baju bebas (istilah di TN, baju preman). Oke, cukup gagah memang. Tapi dengan melihat style yang tidak seragam itu memang kurang enak dilihat. Pernah juga saya membaca surat pembaca di koran, isinya protes seorang bapak gara-gara saat dia menyetir diberhentikan oleh personil TNI. Padahal jika si bapak itu bisa melihat kondisi dan tahu aturan, saat
pengibaran bendera memang seharusnya memperlambat laju kendaraan, untuk menghormati Sang Saka. Tapi saat kasus itu memang personil TNI-nya yang mengingatkan dengan cara yang kasar.

Agaknya Depkominfo atau lembaga negara yang lain perlu menyosialisasikan hal-hal sepele tapi penting seperti ini. Males banget kan, klo untuk tahu gimana cara ngehormat bendera aja, perlu buka-buka PP yang sangat tebel itu? Dan lagi sosialisasi semacam ini sangat penting untuk diketahui generasi-generasi penerus bangsa ini...


31 Maret 2009

Sebuah Ikrar

....
Kami bertekad, bertekad kan lebih baik lagi
kami bertekad berprestasi lebih tinggi lagi
dengan Rahmat-Mu kami pantang menyerah
kami bertekad wujudkan amanat Prasasti
tunggulah kami dalam reuni di kampus tercinta ini
20 tahun lagi
....
diambil dari:
"Prasasti" (syair: Tarwotjo* ; lagu: Elizabeth E.S.**)

Semoga syair di atas bisa mengembalikan semangat saya dan teman-teman pembaca yang sedang didera efek demotivasisasi (pusing yah??). Istilah saya klo kita sedang mengalami perasaan depresi, males, sakit, dan sodara-sodaranya.

(Ingin berbagi pengalaman)
Iya nih, hari ini sedang mengalami kondisi seperti itu. Saya baru tersadar produktifitas saya menurun akhir-akhir ini. Jadi agak-agak males
dan sering maen game (game yang lagi saya maenin game strategi : Hearts of Iron II). Keren banget boi! Tapi ntar ajalah saya ulas.

Demotivasisasi

Mungkin banyak faktor yang membuat kondisi saya dan mungkin segelintir orang lain jadi seperti ini. Bisa faktor keluarga, lingkungan, akademis, dan lain sebagainya. Namun yang saya rasakan, dan mungkin juga inilah kesalahan besar saya, saat mengalami kegagalan susah untuk berdiri lagi. Ya, saat semester 3 lalu, nilai akademis saya cukup terpuruk. Di situlah saya merasakan gagal segagal-gagalnya. Namun karena tidak saya tangani, efeknya memanjang sampai sekarang. Motivasi saya dalam bekerja dan belajar tidak sekuat dulu.

Unlocking Potential Power
Tadi siang saya membuka-buka sebuah modul pelatihan manajemen diri, training MSQ, yang pernah saya ikuti hampir 3 tahun yang lalu. Saya terenyak melihat sebuah slide yang isinya:
"WASPADALAH...! MALAS akan membuat kehidupan tak bermakna, bila motivasi hidup sudah tak dimiliki, maka sama halnya manusia tanpa motivasi adalah MATI sebelum ajal menjelang"
Tata bahasanya kurang baik, namun maknanya cukup jelas: Motivasi adalah energi manusia untuk hidup, jika motivasi kita sudah tidak ada, tak ada bedanya dengan mobil tanpa bahan bakar, mati...


Duh...ngeri. Saya pun tersadar. Lalu saya membuka lembaran binder masa SMP-SMA. Saya membaca testimonial dr teman-teman saya. Sangat menampar wajah saya! Ternyata selama ini saya telah membohongi "kemampuan tempur" diri saya. Di kertas-kertas kecil itu teman-teman saya menuliskan kelebihan-kelebihan dan kekurangan-kekurangan saya. Ya, dulu saya memang gencar sekali mencari feedback dari orang-orang, ditambah lagi kesan-pesan yang wajib kami kumpulkan sebelum lulus dari SMA. Tulisan-tulisan itupun makin memperbanyak informasi tentang diri saya.
manusia tanpa motivasi adalah MATI sebelum ajal menjelang

Saatnya Berubah (lagi)
Sungguh dahsyat dan bahaya sekali si demotivasisasi ini. Saya bersyukur, tersadar sebelum terlambat. Sekarang sudah saatnya mengembalikan impian-impian yang ingin digapai, mengembalikan kinerja diri seperti sediakala.

Teman, semoga tulisan ini bisa jadi inspirasi. Jang
an sampai terperosok lubang dua kali.

Oia, tambahan, biar makin semangat harus saya pajang foto-foto orang yang menginspirasi saya:
*)Professor, 1st TN Headmaster
**)TN's teacher

06 Maret 2009

Dies Emas...

Teman, tahukah kamu tanggal 2-7 Maret 2009 ada pameran IPTEKS (Ilmu Pengetahuan, Teknologi, Seni) di ITB?

Acara ini sebenarnya merupakan bagian dari rangkaianacara Dies Natalis ke-50 ITB. Acara dies ini lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya karena merupakan dies emas. Selain pameran, rangkaian acara lainnya adalah Opera Ganesha (yang tiketnya gratis tapi udah habis..hiks) dan berbagai macam seminar nasional dan internasional. Untuk lebih jelasnya silakan klik www.itb.ac.id/dies50.

Hmmh....Minggu ini kampus ITB sangat ramai. Penuh orang, penuh barang. Selama rentang waktu dari tanggal 2-7 tersebut tercatat pula ada beberapa event (selain pameran itu sendiri) yang digelar di ITB, yaitu sidang terbuka (acara seremonialnya dies ini), seminar nasional "Pengembangan Kebijakan, Manajemen, dan Teknologi di Bidang Energi dan Lingkungan", serta seminar tambahan dari Metro TV tentang jurnalistik.

Seminar
Saya ikut seminar nasional dan seminar jurnalistik. Seminar nasional benar-benar datang dan menyimak, tapi klo yang seminar jurnalistik itu cuma registrasi doang..hehehe. Seminar nasionalnya menghadirkan beberapa menteri. Pak Rachmat Witoelar, Bu Sri Mulyani, dan Pak Purnomo Yusgiantoro. Tapi sebenernya saya ga tau apakah Bu Sri dan Pak Purnomo datang atau ga, soalnya pas hari kedua ada banyak kuliah, terpaksalah tidak mengikuti seminar di hari kedua. Seminar nasional ini keren. Makanannya enak.Heu...heu (pikirannya makanan melulu). Tapi, sadar atau tidak, menurut saya salah satu parameter bagus tidaknya penyelenggaraan seminar terletak dari konsumsinya loh.
Keynote Address dari Pak Rachmat Witoelar

-back to topic-
Seminar ini bagus. Menambah wawasan peserta tentang energi yang ada di Indonesia sekarang, sekaligus mengenai lingkungan yang sedang terancam saat ini. Sesi diskusinya cukup seru. Yang bertanya kebanyakan peserta-peserta senior. Dan salah satu yang menarik perhatian saya adalah, ada salah seorang bapak pegawai Pertamina yang mengatakan bahwa energi alternatif itu seharusnya minyak dan gas. Bukan angin, panas bumi, dsb. Nah loh? Kebalik banget kan dengan yang banyak diberitakan sekarang ini? Terbyata ini lebih berhubungan dengan paradigma berpikir kita. Jika kita menganggap sumber energi terbaharukan sebagai energi alternatif, berarti migas adalah sumber energi primer. Betul tidak? Nah, dengan menganggap migas sebagai energi primer tentu saja kita akan mengoptimalkan, bahkan memaksimalkan penggunaan migas dulu, Barulah jika sudah mepet-mepet akan habis banget kita beralih ke energi alternatif. Untuk mendasari paradigma tersebut kita harus berpikir, bahwa bumi yang ada saat ini bukanlah warisan para leluhur kita, melainkan pinjaman dari anak cucu kita.
Subhanallah ya...

bumi yang ada saat ini bukanlah warisan para leluhur kita, melainkan pinjaman dari anak cucu kita

Pameran

Pameran dalam rangka dies ini sangat ramai dan menarik. Pihak panitia menampilkan stand-stand industri/bisnis dan karya seni.Tema besar yang di angkat ialah energi, lingkungan, bioteknologi, teknologi informasi, dan industri kreatif. Setiap stand mempromosikan barang-barang penelitian, produksi, hingga barang-barang komersil. Secara umum, pameran di laksanakan di daerah selatan dan tengah kampus.
Berbagai macam instansi pemerintah maupun swasta turut terlibat di sini. Daerah yang menurut saya paling makmur adalah stand perminyakan. Stand yang mewakili ruang kerja BP Migas ini menghadirkan acara presentasi dari berbagai perusahaan minyak dunia yang berinvestasi di Indonesia. Jika kita aktif dalam diskusinya, sering bertanya, dan hoki, maka souvenir-souvenir mereka bisa kita dapatkan. Tercatat saya mendapat 1 binder, 1 kalender lucu, 1 mug, dan 1 notes serbaguna. Kalo ikut presentasinya, seusai acara biasanya dikasih es krim. Dengan atmosfer tenda yang nyaman dan berpenyejuk, stand BP Migas ini betul-betul TOP.

Daerah CC diisi oleh instansi pemerintah dan sponsor. Ada stand Dirjen Cipta Karya PU, Bappenas, Pemprov Jabar, Bank BNI, dll.

Daerah jalan depan CC
kebanyakan diisi oleh industri dan perusahaan lain. Stand-stand yang mengisi daerah ini membuat kesan seolah-olah hari itu sedang diselenggarakan career day, maklum kebanyakan adalah perusahaan komersil yang juga memperlihatkan inovasi-inovasi mereka. Di sana ada stand PLN, PT.PP, PU, LAPI, Tripatra, dan lain sebagainya.

Di daerah Plaza Widya Nusantara, dipasang panggung hiburan. Di hari pertama pameran, tanggal 2 Maret setelah paginya tugas protokoler di Sabuga, ada penampilan Bandos (Band Dosen). Di band itu ada Pa Ofyar, dosen transport saya. Beliau salah satu dosen favorit kami di sipil. Ngajarnya enak dan selalu menstimulus kami untuk berpikir logis, kritis, dan juga bersikap sebagai pemimpin. Saya pernah jadi ketua kelasnya beliau pas tingkat 2. Sore itu beliau menjadi pemain keyboard bersama dosen-dosen dari jurusan lain. Wah, keren juga si bapak!
Pa Ofyar dan tim Bandos-nya yang lagi manggung

Dekorasi dan tata ruang yang ditampilkan di pameran ini pun sangat bagus. Hal ini terbukti dari banyaknya spot foto yang tersebar merata dari pintu gerbang hingga Plawid. Tidak ada satu hari pun tanpa pengunjung yang menjadi "jurig foto" (begitu anak-anak LSS menyebut org2 yang doyan foto). Salah satu spot menarik adalah esai fotografi yang berada di boulevard CC. Gambar-gambar yang ada sangat menarik dan dicetak dengan ukuran besar. Saya pun, tentu saja, tidak melewatkan hasil karya ini untuk diabadikan.






Barudak sipil...(yang di foto jaman dulu juga anak sipil loh!)















Bareng si Upi, dari UPI, temen SD

Demikian reportase saya dari medan "syukuran" ITB. Sayang nih ga dapet tiket Opera Ganesha. Hu...hu...
Semoga dengan adanya DIES ini, ITB jadi semakin lebih lebih lebih baik baik baik lagi dan semua mahasiswanya termotivasi untuk berprestasi lebih tinggi lagi. Amin.

Oia, jadi inget lagu pas SMA. Ntar saya tulis di postingan selanjutnya aah...

02 Maret 2009

Sidang Terbuka DIES NATALIS EMAS ke-50 ITB

Tugas lagi nih...
Hari ini genap 50 tahun ITB berdiri. ITB-nya loh, bukan bangunannya. Bangunan ITB sendiri sudah berdiri sejak tahun 1920. Waktu itu namanya Technische Hogeschool dan pada tahun 1959 akhirnya diberi nama Institut Teknologi Bandung. Untuk memperingati hari jadi ke-50, pada tanggal 2 Maret ini diadakan Sidang Terbuka Dies Natalis ke-50 ITB.

Sebagai salah satu elemen pendukung acara, hari ini seperti biasa tim protokol (dimana saya tergabung di dalamnya) wajib kumpul paling telat jam 7 pagi. Masih tetap di bawah asuhan ibunda tercinta, Bu Anis, yang bener-bener disiplin banget. Pagi ini saya berangkat dari rumah pukul setengah 7 dan, tentu saja, karena waktu tempuh ke kampus rata-rata 30 menit jadinya di jalan ngebut. Pas di pertigaan Dayang Sumbi-Tamansari sudah terlihat tanda-tanda pejabat mau datang (jalan diblokir). Memang rencananya our vice President ini akan memberikan orasi pada sidang terbuka Dies Natalis ITB ke-50 ini.

Kerja kami untuk hari ini memang agak mudah dibandingkan dengan tugas-tugas sebelumnya, soalnya protokoler kepresidenan dan paspampres ikut turun tangan juga. Masalah keamanan, kita sudah tidak perlu khawatir lagi. Penjagaan dan pemeriksaan yang ketat sudah dilaksanakan oleh aparat. Penempatan detektor di pintu masuk pun termasuk upaya pencegahan untuk memastikan kondisi tetap aman. Bahkan, untuk kali ini ID card yang kita pakai pun harus di cap KODIM. Tanda itu cukup menyiratkan bahwa acara ini memiliki level keamanan yang tinggi.


Tugas dimulai...
Untuk tugas ini saya di-plot di bagian VIP. Sebenernya saya yang minta sih, tugas-tugas sebelumnya sering di SB-1 & SB-2. Sekali-kali nyobainlah atmosfer baru. Hehe.
Tapi ternyata tugasnya ga jauh beda sama di SB-1 & 2 (yaaah...kecewa awak), soalnya, ya tadi itu udah banyak yang di-handle sama orang lain (Prot.Neg & Paspampres). Saya dan 3 orang rekan lain hanya mengarahkan tamu-tamu sesuai dengan undangan yang mereka bawa (VIP atau bukan). Tamu VIP rata-rata datang dengan mobil hitam mengkilap (Camry, Fortuner, dan kawan-kawan sebangsanya). Ck..ck..ck...mantap lah ya.
JK datang...
Iring-iringan rombongan wapres akhirnyadatang. Dengan dikawal beberapa motor Polisi Militer, beliau pun disambut oleh tarian dari teman-teman UKSS (Unit Kesenian Sulawesi Selatan), tari daerah dimana JK berasal. Cuman, kasian deh, JK hanya jalan sekilas. Jadinya teman-teman kita ini masih nari walaupun udah ga ada pejabat yang liat.Prosesi...
Mirip-mirip dengan wisudaan, sidang terbuka pun ada prosesinya. Barisan guru besar yang memakai jubah-jubah elegan dan kalung-kalung penuh makna (tapi saya gatau juga artinya apa) dipimpin dengan seorang... (namanya apa ya) yang bawa tongkat dengan patung gajah di ujungnya.
Acara prosesi ini merupakan salah satu adegan favorit saya selama di ITB. Gemerlapnya asesoris guru-guru besar ITB & orang-orang intelektual ini sangat menginspirasi saya. Apalagi jika Mars ITB telah dikumandangkan, bergetar sekaligus bangga. Terlebih setelah prosesi selesai, dinyanyikan pula lagu kebangsaan kita, Indonesia Raya. Semakin luluh lantaklah hati ini mendengarnya.


Acara dilanjutkan dengan pidato dari petinggi-petinggi ITB (nama-namanya menyusul ya...). Selanjutnya pemberian penghargaan bagi orang-orang yang telah berjasa bagi ITB, dan dilanjutkan lagi dengan orasi dari Wakil Presiden Jusuf Kalla. Dalam orasinya, wapres menekankan pentingnya teknologi sebagai sarana pendukung bagi kemajuan ekonomi kita. Beliau pun sempat berkelakar bahwa jika ada sesuatu yang tidak beres dalam kabinet ini, maka pendidikan di ITB patut dipertanyakan, karena 7 dari 26 menteri yang ada adalah alumni ITB.
Setelah selesai dengan orasinya, wapres meresmikan pembukaan rangkaian kegiatan DIES Emas ITB serta menandatangani Sampul Hari Pertama bagi penerbitan perangko bertema DIES Emas ini.

Acara-acara yang cukup formal tersebut akhirnya dipungkas oleh penampilan menawan dari kawan-kawan PSM (Paduan Suara Mahasiswa), KPA (Keluarga Paduan Angklung), dan ISO (ITB Student Orchestra).

Demikianlah acara Sidang Terbuka ITB dalam rangka Dies Natalis ke-50. Semoga dengan Teknologi dan daya saing yang tinggi, kita dapat mencapai masa depang bangsa yang gemilang.
-for the glory of our nation

oia, berikut ada beberapa foto orang penting yang tertangkap kamera saya ;)















Wakil Presiden...



Gubernur Jabar
















???-Saya lupa klo pas pidato-pidato tadi ada pejabat yang lapar..Tapi ko yang dimakan bendera ya?



26 Februari 2009

Kalender Monyet

Dia lahir tanggal 20 Februari, Jumat yang lalu. Bikinnya butuh waktu kurang lebih 45 menit. Mulai dari ngeprint, gunting-gunting, dan nempel-nempel. Akhirnya jadi deh...

Kalender monyet yang perlu kita ubah tanggalnya tiap hari...fiuuh..cape juga, tapi lucu =)

Kalender ini di dalamnya ada 2 kubus yang isinya angka-angka untuk menyusun tanggal dan 3 balok yang memiliki tulisan bulan dengan ekspresi mulut. Jadi tiap ganti bulan si monyet ini ganti ekspresi juga. Ada ekspresi senyum, ketawa, cemberut, ngejek, dll.
Si monyet yang "isinya" lagi dikeluarin...

Lucu bukan?
Daripada beli kalender kertas yang harus disobek tiap hari, si monyet ini menjadikan kita cinta lingkungan, fleksibel pula, tak lekang dimakan zaman kecuali kertasnya rusak. Tapi untuk proses "kelahirannya", butuh 7 lembar kertas, glossy lebih baik.
OK...klo ada yang mau bikin, tinggal kunjungi aja Canon Creative Park:
http://cp.c-ij.com/en/contents/1003/