24 Maret 2008

Lari = Semangat Kejuangan

Pernah ikutan lari maraton? Masih inget tes lari
waktu zaman sekolah dan kuliah?

Atau pernah ikutan lari 10K?


Lari itu sungguh menyenangkan, bagi sebagian orang, dan melelahkan bagi yang lainnya. Lari itu bergerak dengan melangkahkan dua kaki secara bersamaan pada waktu tertentu, tentunya lebih berat daripada jalan biasa. Namun, untuk pertumbuhan, kegemaran berlari dapat membentuk tubuh lebih baik. Berdasarkan pengalaman waktu SMA dulu, saya mengamati bahwa olahraga lari memiliki banyak kelebihan;

Pertama, dengan berlari otot perut otomatis kenceng, makanya dulu setiap selesai berlari biasanya saya tidak melakukan sit up lagi.
Kedua, lari membuat tulang punggung tumbuh optimal, saya melihat fenomena dari teman-teman yang rajin lari, tinggi mereka bertambah secara signifikan
Ketiga, kayanya udah ga bisa bahas lagi...maklum bukan orang yang berkompeten di bidangnya, hanya bagi-bagi pengalaman...=)

Eh, tapi masih ada lagi nih pengalaman penting seputar berlari. Percaya ga percaya, saya merasa lari adalah sebuah sarana untuk menguji mental kejuangan kita. Apalagi jika kita sedang dalam perlombaan. Dulu (lagi-lagi saat SMA) saya mengalami tes semapta, semacam UAS dalam bidang olahraga. Semapta dibagi menjadi dua, semapta A (lari 12 menit) dan semapta B (pull up, push up, sit up, dan shuttle run). Mengapa lari diberi kategori sendiri? Mungkin karena lari itu memang berat. Dulu saat awal tes semapta, sebelum peluit berbunyi jantung kami sudah berdegup kencang. Peluit berbunyi, tenggorokan mulai bersuara-suara ga jelas. Tikungan pertama, degup jantung mulai normal...oke lah. Tikungan kedua, yah...mulai stabil-lah degup jantungnya. Nah, di tikungan-tikungan selanjutnya ini, mulai deh berbagai macam rasa muncul. Untuk sang no.1, dan orang-orang yang di depan, degup jantung akan naik kembali. Mungkin gara-gara takut disusul dan mereka memiliki beban untuk mempertahankan posisi. Untuk orang-orang di posisi tengah, ada dua sifat:
  1. Terkadang orang yang ada di posisi tengah biasa-biasa saja, tidak deg-degan dan menikmati larinya. Padahal penilaian tes lari ini mengacu kepada jumlah lap yang kita lalui (secara individual), bukan berdasarkan peringkat.
  2. Ada pula orang-orang tengah yang malah terpacu untuk maju dengan mempercepat larinya karenatermotivasi temannya yang sudah memimpin di depan. Dan uniknya, terkadang orang-orang tengah ini bisa menyusul orang-orang depan dan ada di depan mereka saat peluit panjang berbunyi. Disinilah letak mental kejuangan dalam berlari. Saat kita sudah memiliki tujuan, hasrat, atau impian, tubuh kita akan memiliki kekuatan lebih untuk mewujudkan hal itu. Kekuatan inilah yang disebut semangat. Dan saat tubuh/fisik kita sudah tidak mampu lagi dalam melayani permintaan otak, semangat inilah yang akan memberikan energi kepada tubuh sehingga tetap mampu memenuhi tujuan, hasrat, dan impian kita.

Saat kita sudah memiliki tujuan, hasrat, atau impian, tubuh kita akan memiliki kekuatan lebih untuk mewujudkan hal itu

Saya sendiri pernah mengalami kondisi seperti itu saat berlari. Waktu itu organ kaki saya benar-benar telah memasuki kondisi kritis, pegel-pegel, cape, namun saya memikirkan tujuan yang ingin dicapai, garis finish, dan membayangkan kebahagiaan saat saya menyelesaikan tes ini. Hal itulah yang tetap membuat saya bertahan hingga akhir, meskipun kondisi fisik sudah...yah... parahlah. Sebenarnya saat itu bisa saja saya memperlambat lari, bahkan jalan, lalu lari lagi. Namun hal itu tentunya akan melemahkan mental saya.


Pengalaman lain tentang semangat yang bisa membuat orang bertahan hingga akhir pun saya dapatkan dari pengalaman mengikuti INDONESIA 10K, yang diadakan oleh salah satu perusahaan minuman berenergi di Indonesia. Saat itu untuk pertama kalinya saya berlari 10 kilometer nonstop. Fiuuh... cape banget! Untungnya saya berlari bersama teman-teman SMA, dan kami berlari dengan berbaris. Di tengah perjalanan, diantara kami ada saja yang pernah mengalami penurunan semangat, namun hal itu ditutupi oleh yang lainnya. Alhasil kami semua berhasil mencapai finish.


Dua cerita terakhir di atas menunjukkan adanya sebuah semangat pantang menyerah...
Menurut saya, si "semangat" tipe ini sangat kuat dibanding semangat lainnya, dan semangat pantang menyerah ini sudah kita miliki sebagai bangsa Indonesia.
Saya masih ingat sebuah spanduk di jalur lari 10K tersebut:
"Semangat Pantang Menyerah Warisan Leluhur Kita"

17 Maret 2008

Izin masuk dunia Blog Pak!

"Saya harap di masa mendatang kalian memiliki ketertarikan terhadap dunia tulis menulis, karena menulis itu membuat seseorang semakin pintar..."

Kata-kata itu terngiang di telingaku sejak dua tahun yang lalu. Saat itu aku sedang menjalani pengujian karya tulis bersama dua orang temanku yang lain di hadapan Pak Asul Wiyanto, pamong Bahasa Indonesia yang cukup senior dalam dunia tulis menulis. Saat kelas tiga SMA itu, aku membuat karya tulis berjudul : "Kemampuan Berkomunikasi dan Pengaruhnya Terhadap Kualitas Kepemimpinan", sebagai salah satu syarat kelulusan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Kata-kaat yang diucapkan Pak Asul saat itu mungkin hanya terasa sebagai nasihat biasa. Namun, seiring berjalannya waktu aku mulai menyadari mengapa menulis dapat membuat seseorang menjadi pintar.

Sejak saat itu hasrat menulisku mulai tumbuh. Dimulai dari yang sederhana : buku harian. Yup!Awal yang mudah untuk menulis...

Sekarang, meskipun sudah...yah...bisa dibilang terlambat...akhirnya aku mulai menulis sebagai blogger

Oke...
Izin memasuki dunia blog Pak!