Dari Deception Point ke Bandung Utara

-Perhatikan daerah di dalam lingkaran merah-

Masih ingat dengan Deception Point? Salah satu novel karya Dan Brown itu?
Nah, tulisan saya yang satu ini merupakan hasil perkawinan dari novel itu dan tadabur alam ke daerah Bandung Utara...

Begini ceritanya...
Waktu pertengahan April klo ga salah. Di tengah hiruk-pikuk persiapan agenda besar LSS ITB. Saya melihat salah satu brosur perumahan di Bandung Utara. Milik anak Planologi. Mereka kayanya dikasih tugas ke lapangan gitu, jadi ngumpulin brosur-brosur perumahan. Perumahan di daerah selatan atau di luar kota sih mungkin biasa, tapi ini di Bandung Utara! Udah sebegitu rentannya tapi masiiih aja dibangun beton. Sebagai orang sipil harusnya sih saya seneng gara-gara banyak proyek, tapi klo udah menyangkut lingkungan...yah, harus concern juga dong.

Up !

Setelah tidak sempat nonton Ice Age 3 di layar lebar, akhirnya nonton juga film animasi lain.

Up

Bukan singkatan.

Diajak nonton sama "pemilik" blog ini yang gereget banget pingin nonton.

Up ini film animasi yang menjadikan manusia sebagai tokoh utamanya. Akhirnya, bukan mainan (Toy Story), mammoth (Ice Age), ataupun lebah (Bee Movie) yang menjadi sorotannya. Karakter fisik tokoh-tokohnya lucu-lucu. Gendut, chubby (gembil), ngegemesin pokonya. Nonton film ini pun bagi saya serasa nostalgia waktu dulu aktif di Pramuka. Soalnya salah satu tokohnya, yaitu si Russel, adalah seorang bocah Pramuka yang senang mengoleksi lencana/badge. Klo di Pramuka Indonesia namanya TKK (Tanda Kecakapan Khusus). Hehe. Hapal ya? Soalnya dulu juga saya termasuk pemburu TKK. Keren sih soalnya klo dipake.

Deception Point


Deception Point: Salah satu dari empat buku karangan Dan Brown. Terbit di Indonesia sejak tahun 2006...

Memang telat sepertinya untuk membuat review buku ini. Tapi, jujur, saya sangat tertarik terhadap ceritanya. Baru kali ini juga loh saya baca buku yang begitu kakunya. Bukan kaku alur ceritanya, tapi kertasnya kaku. Buku ini saya pinjam dari seorang saudara yang tinggal di ibukota, yang pernah menjadi korban banjir besar di tahun 2007 klo ga salah. Alhasil semua buku miliknya pun terendam. Padahal koleksi buku teteh saya itu banyak banget. Si buku Deception Point ini juga mau ga mau jadi korban.

It's Not A Promotion

I found this company when I was reading its advertisement on ASCE magazine that published in 2004 (I read old magazine, of course, because there is no latest issue in our department's library-it means no update!).

Their advertisement is interesting. Why?
The illustration, of course...


It's Hayward Baker, a geotechnical construction company. 
Those images represent their work. Unique, isn't it?


Once again, it's not a promotion...


ITB "Wangi"

Kemarin (4/5) saat saya menuju ruang kuliah di gedung Sosioteknologi, tercium bau menyengat yang amat sangat sangat bau banget pisan! Eeeeuugh...ga kuat baunya. Aroma pesing tersebut mulai tercium saat melewati gedung UPT Bahasa/Elektro bawah. Saya menduga bau tersebut berasal dari WC atau septic tank yang bocor. Saat memasuki ruang kelas Technical Writing pun bau tersebut belum hilang, bahkan masuk ke dalam kelas. Saya pun berinisiatif izin ke luar kelas dan menuju kantin bengkok untuk menikmati sebotol frutcy dan udara segar di sana.

Sebetulnya sejak minggu lalu bau tersebut sudah meneror kami, hanya saja saat itu belum separah kemarin. Mungkin karena tidak tahan dengan baunya, dosen kami pun akhirnya menyuruh kami ke perpustakaan untuk mencari iklan lowongan kerja dan membuat sebuah application letter serta curiculum vitae. Pada awalnya sih sang dosen hanya memerintahkan kami apa adanya, seolah-olah memang beliau sudah merencanakan tugas itu. Tapi, pas akhir-akhir ketahuan juga, beliau memberi tugas itu karena ingin segera angkat kaki dari daerah "tak terhankan baunya" itu. Sebelum keluar, beliau mencak-mencak:

Sabuga Berubah Menjadi Toko Buku!

Kegiatan hari ini:
-Seminar jurnalistik CRAYON
-Kuliah Umum Inovasi dalam Geoteknik dari Pa Masyhur
-Asistensi software apaaaa gitu dari B'Dimas
-Jalan-jalan ke Kompas Gramedia Fair di Sabuga
-Liat-liat pameran di Landmark
-Makan-makan Sipil TN ama B'Pram

Kenyataan hari ini:
-Bangun telat...jadinya telat ikut seminar jurnalistik
-Ga ikut sama sekali kuliah umumnya
-Pas asistensi tidur
-Tidur siang di Salman
-Ke KGF sama Dadan
-Ga jadi ke Landmark
-Makan-makan tetep jadi dooong...haha (Thx B'Pram!)☺

Hari libur yang penuh kegiatan di kampus. Cuma alhamdulillah bermanfaat semua, tinggal gimana cara kita memanfaatkannya (dengan tidur kaya tadi atau...).

Yah, begitulah kehidupan saya hari ini. Yang paling menarik dan ingin saya ceritakan ialah mengenai acara Kompas Gramedia Fair 2009 di Sasana Budaya Ganesha, Bandung. 

Cerita Penjual Jagung Bakar

Sedang fokus-fokusnya mengerjakan tugas baja, tiba-tiba...

"Jaguuung...
Jaguuung bakaaaar..."
Suara seorang laki-laki tua memecahkan keheningan malam. Sumber suara itu melintas di depan rumah kami, lalu perlahan-lahan mulai mengecil, menjauh. Namun, entah kenapa saya tiba-tiba beranjak dari tempat belajar, bilang sama ibu mau beli jagung bakar, lalu mengejar sumber suara tersebut.

"Mang, meser jagong..."
"Oh, sabaraha jang?"
-belum saya jawab-
"Bumina nu mana?"
"Eta nu di pengkolan, nu tembok bodas"

Dari percakapan di atas ada beberapa informasi yang bisa kita dapat:
-saya mau beli jagung bakar
-si penjual sudah berjalan cukup jauh dari rumah saya
-dia berharap saya membeli banyak, karena ngeliat saya rela mengejar dia dengan jarak sejauh itu



Saya pun kembali ke rumah diikuti si emang itu. Sampai di rumah:

"Neng, mau jagong?"
"Ngga."
"Ade, mau?"
"Enggak."
"Kalo Ibu, mau jagung ngga?"
"Ngga"

waaaaa...sugan teh, pada mau. Walaupun saya sebagai pembeli dan memiliki bargaining position yang tinggi, jadi asa ga enak juga euy ka si mang jagong. Yasudahlah.

Akhirnya, bener juga, penjual jagung tersebut nawarin buat ngabisin dagangannya. Ada enam jagung yang tersisa. Akhirnya, dengan beberapa pertimbangan yang datang dari hati, saya memutuskan beli empat jagung seharga Rp. 6000,00. Terus, adik-adik saya pada keluar, bukan mau mesen, tapi mau nonton si emang ngebakar jagung. Lalu, adik saya yang paling besar, yang lagi UN SMP, ngobrol dengan penjual jagung tersebut. Saya sendiri masuk ke dalam rumah.

Adik saya pun masuk juga setelah beberapa lama. Dia bercerita:

"A, si emang kasian tau..."
"Kenapa gitu?"
"Katanya teh...(bla...bla..bla)"
...

Dari percakapan tadi, saya pun tahu klo si emang membawa jagungnya itu (asli) dari Lembang. Dia dapat dari anak-anaknya yang tinggal di sana dan dia jual di sini (daerah Bandung Tengah agak selatan). Bukan anaknya yang mengantar jagung-jagung tersebut, tapi dia sendiri yang berangkat ke Lembang. Dan, hari ini, sejak pukul 4 sore, dia menjajakan jagung yang ia akui jumlahnya relatif lebih sedikit dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya. Kenapa sedikit? Katanya malu, soalnya jagung yang ini kebetulan kecil-kecil, jadi dia jual sedikit saja.

Hmmm...
Asa malu sama diri sendiri. Ternyata kita bisa banyak belajar dari lingkungan di sekitar kita. Banyak sekali. Seperti contoh di atas. Mungkin sebagian orang ada yang berpendapat, klo hal tersebut adalah kewajaran, ada orang yang susah, ada orang yang senang. Tapi, bagi saya sendiri, suka ada yang "bergejolak" di hati klo denger-denger cerita seperti ini. Melihat contoh nyata sebuah kerja keras, kesabaran, dan ketangguhan seorang manusia dalam menghadapi kehidupannya.

Sama halnya dengan sebuah contoh lain, waktu saya dan Ibu beli sate tahu di belokan Reog, Turangga. Ada seorang kakek-kakek yang berjualan baso tahu dari Cicadas (rumahnya) hingga Talaga Bodas, dan transit malam harinya di daerah Reog. Betapa jauhnya jarak yang ia tempuh. Lalu, setelah ibu ngobrol lebih jauh lagi, kami tahu ternyata si kakek memiliki anak-anak yang (saya simpulkan) sudah mapan dan logikanya bisa menghidupi si kakek. Lalu kenapa si kakek masih berjualan baso tahu dengan medan sejauh itu? Dia menjawab dengan simpel, "Jika kita masih bisa bergerak dan berusaha, kenapa harus diam? Rezeki itu harus kita cari, ini yang namanya perjuangan" (kata-kata ini saya rekonstruksi ulang tanpa menghilangkan makna, mengingat kejadiannya sudah lama).

"Jika kita masih bisa bergerak dan berusaha, kenapa harus diam? Rezeki itu harus kita cari, ini yang namanya perjuangan"


Cerita-cerita di atas bagi saya cukup memberikan beberapa kesimpulan:
1. Bersyukur, alhamdulillah kondisi saya tidak sesulit yang dialami orang-orang tersebut.
2. Kerja keras, diperlukan agar dapat mengatasi segala macam tantangan dalam hidup ini. Bisa jadi dengan kondisi kita yang lebih baik dari orang-orang tersebut, ternyata Allah menyiapkan tantangan yang jauh lebih besar bagi kita.
3. Berprinsip, harus dimiliki, agar bisa bertahan dalam perjuangan.


Semoga tulisan ini bisa menjadi inspirasi bagi kita dan bisa mengubah ke arah yang lebih baik lagi. Amiin.


Oia, akhirnya adik-adik saya tergoda juga buat makan jagung bakar itu..Huh!