20 Mei 2018

Da Nang dan pengalaman triathlon pertama saya


Bersepeda adalah hobi saya sejak dulu. Seingat saya, itu bermula sejak saya dibelikan sepeda Wim Cycle Metalizer tahun 1997 oleh Bapak, tepat setelah peresmian renovasi masjid Al-Miftah di Jalan Turangga, Bandung. Saat bersepeda saya selalu membayangkan sebagai seorang pembalap. Saat itu daerah bermain saya hanya di gang-gang sekitar rumah dan tidak jarang saya jatuh dari sepeda karena banyak gaya di tikungan-tikungan gang yang sempit. Saat kuliah saya mulai bersepeda lagi dengan range yang lebih luas. Passion untuk bertualang dengan sepeda mulai membesar pada masa-masa ini. Silakan simak cerita lain saya tentang pengalaman bersepeda di label ini: cycling.

Baru sekitar tahun lalu, setelah tinggal di Ho Chi Minh City, Vietnam, saya tertarik untuk mengikuti perlombaan (race). Mungkin karena efek lingkungan, saya jadi mulai ikut event lari-larian. Sepertinya tidak terlalu cocok disebut lomba lari, karena tujuan saya hanya untuk mencapai garis finish (jadi finisher). Nah, dari situlah ekskalasi dimulai. Setelah mengikuti beberapa event lari dari mulai 5k, 10k, hingga half-marathon, saya merasa tertantang untuk mencoba triathlon. Saya lupa persisnya dari mana saya mulai "keracunan," mungkin dari instagram atau media lainnya, tapi yang membuat keinginan itu makin kuat adalah karena kesenangan saya terhadap sepeda. Apalagi setelah beli road bike baru (hasil "keracunan"), keinginan untuk ikut triathlon mulai membesar. Tapi saat itu setahu saya hanya akan ada event 70.3 Ironman di Da Nang, padahal saya hanya ingin mencoba jarak yang lebih pendek. Saat publikasi untuk event 70.3 Ironman mulai beredar di jagad sosmed di HCMC sekitar awal Januari 2018, ternyata saya baru tahu ada pra-event juga berupa "Sunrise Sprint," yaitu triathlon dengan jarak yang paling pendek: 750 m renang, 20 km bersepeda, dan 5 km lari. Tanpa pikir panjang saya langsung daftar!

Masa Persiapan
Untuk persiapan,... sepertinya saya terlalu menyepelekan persiapannya karena menganggap jarak lomba yang pendek. Sebenarnya saya ikut grup facebook Viet Nam Triathlon Club (VNTC) dan banyak tawaran untuk latihan-latihan bersama, termasuk latihan renang di laut terbuka di Vung Tau. Tapi karena kesibukan dan kurang niat, saya tidak pernah ikut. Praktis saya hanya belajar teori-teori dari forum-forum di internet (termasuk grup facebook VNTC), instagram, YouTube dan blog-blog. Saya menganggap saya cukup mampu bersepeda kebut-kebutan, renang juga bisa, lari juga bisa dijajal. Tapi yang saya lupa adalah kesemuanya itu digabung dan belum tentu stamina saya cukup untuk melakukan semua sesi lomba itu. Beberapa bulan sebelum hari-H persiapan saya hanya belajar teori dan beli triathlon suit (trisuit) :). Trisuit ternyata cukup mahal :( Sebetulnya olahraga ini saya pikir cukup menguras dompet, karena selain perlu beli gears renang, sepeda, dan lari, kita juga perlu menyiapkan tiket dan akomodasi selama lomba. Tentunya lomba triathlon ini diadakan di tempat-tempat spesifik yang memiliki laut/sungai/danau/kolam renang.  
Tadinya saya berpikir cukup menggunakan celana renang (atau hanya beli tri short), lalu ganti baju saat transisi. Saat bersepeda pun, saya berencana menggunakan sepatu lari. Tapi kebetulan ada diskon tahun baru Cina di web site keypower sports yang merupakan distributor 2XU. Akhirnya saya beli trisuit di sana. Semua ini saya anggap investasi ;)

Latihan brick (perpaduan 2 sesi, contoh: renang-sepeda atau sepeda-lari) saya lakukan 3 minggu sebelum hari-H. Saya berlatih renang hingga 1,6 km non-stop (salah satunya saya lakukan di kolam renang Horison Bandung saat cuti), sepeda sekitar 20 km, dan lari 5 km. Saat latihan sepeda, saya yang merasa sudah mengerahkan kemampuan maksimal masih bisa disusul oleh pengendara sepeda anonim. Saat itulah saya berpikir untuk membeli (investasi) sepatu sepeda (cleat & clipless pedal) untuk meningkatkan efisiensi tenaga. Karena dengan menggunakan sepatu sepeda, daya kayuh yang dihasilkan tidak hanya pada saat kaki kita menjejak pedal, tapi juga saat kaki kita menarik pedal. Sehingga, secara teori 100% tenaga yang kita beri dari gerakan kaki, bisa tersalurkan ke gear. Saya pun secara instan latihan untuk menggunakan sepatu sepeda dalam waktu 4 hari sebelum akhirnya sepeda saya harus dipacking. Menggunakan sepatu sepeda ini memang butuh latihan karena tidak mudah untuk melepasnya. Apalagi jika dipakai di jalanan kota yang ramai dan sesekali kaki kita butuh untuk turun. Saya pun sempat terjatuh dua kali saat gagal melepas sepatu pada waktunya. Untuk memulai sesi sepeda di triathlon, ada satu trick melakukan "flying mount" yang saya temukan di YouTube. Yaitu dengan menggunakan karet gelang untuk membuat posisi sepatu tetap datar saat di transisi. Tips ini cukup membantu untuk memudahkan beralih ke sepeda setelah kita menyelesaikan sesi renang. Mengenai latihan, akhirnya saya hanya sempat melakukan brick renang-sepeda dan sepeda ke lari. Saya tidak sempat melakukan keseluruhan sesi untuk memperkirakan waktu yang saya butuhkan dalam menyelesaikan lomba. Akhirnya dengan metode visualisai (membayangkan), saya merata-ratakan hasil tiap latihan dan membuat prediksi waktu untuk lomba, yaitu:
Renang 750 m: 21 menit
Transisi 1: 3 menit
Sepeda 20 km: 46 menit
Transisi 2: 3 menit
Lari 5km: 30 menit
Total: 103 menit

Packing sepeda dan latihan menanggulangi ban bocor (flat tire)
Menurut saya, hal yang membedakan triathlon dari running race adalah adanya hal teknis (mekanikal) yang harus dikuasai dari sesi sepeda. Contohnya, saat race kita harus menguasai cara mengganti ban dalam atau menambalnya, lalu cara menanggulangi rantai sepeda yang putus, bahkan packing sepeda pun kita harus tahu tips-tipsnya. Beruntung saya bisa belajar lewat YouTube dan seorang bapak pemilik toko sepeda di Ho Chi Minh City yang baik hati mau mengajarkan cara packing sepeda dan mengganti rantai yang putus. Sebenarnya mengganti rantai agak ribet dan saya berharap itu tidak terjadi pada saya. Sebelum race saya hanya belajar mengganti ban dalam via video ini. Untuk packing sepeda, sejak awal saya tidak berniat membeli tas khusus sepeda yang ber-cushion karena harganya yang mahal. Untungnya saya pernah membeli tas "cover" sepeda di kosambi (TRB bike) yang bisa mengcover kardus sepeda. Harganya cukup murah dibanding tas-tas sepeda yang mahal (cushion atau hard-case), hanya saja kita perlu mencari kardus sepeda yang biasanya lebih panjang dan menambahkan bantalan untuk melapis frame sepeda kita. Berikut ini video saat saya mengepack sepeda termasuk membungkus bagian-bagian penting dengan bubble wrap.

Salah satu tips yang cukup penting menurut saya adalah menandai konfigurasi stang sepeda dan level sadel kita dengan menggunakan tip-ex (atau spidol) agar saat kita re-assembly di tempat tujuan tidak perlu lagi menyetel posisi stang dan sadel. Oia, bubble wrap agak tebal (beberapa lapis) juga diperlukan untuk membungkus crank sepeda yang tajam agar tidak mengenai ban. Ban juga jangan terlalu dikempesin agar masih tersisa sedikit udara untuk cushioning.  Oia, rantai sepeda juga harus di set ke posisi paling dalam (gear kecil) untuk mencegah benturan.
Konfigurasi stang yang perlu ditandai

Level seat post yang perlu ditandai

Sepeda dan tas sepeda (di dalamnya ada kardus/cardbox sepeda)

Perlu diperhatikan juga saat kita travelling dengan membawa sepeda, apakah maskapai yang kita pakai menerbitkan syarat-syarat khusus atau tidak. Misalnya, dulu saat saya membawa sepeda dari Indonesia ke Vietnam, saya harus beli sport baggage khusus buat sepeda di Air Asia. Namun saat saya ke Da Nang kemarin, sepeda bisa dianggap ke jatah bagasi biasa (20 kg) tetapi kita harus melapor ke customer service Vietnam Airlines (minimal 1 hari sebelum keberangkatan) mengenai dimensi dan berat setelah di packing.

11 Februari 2018

Pelesir ke Dalat

Ada yang pernah mendengar kota bernama Dalat?
Saat saya mendengar nama kota itu, saya langsung mengasosiasikannya dengan Presiden Soekarno.
Karena di beberapa buku referensi sejarah diceritakan bahwa Bung Karno pernah mengunjungi Dalat untuk membicarakan rencana kemerdekaan Indonesia dengan petinggi militer Jepang.

Setelah beberapa bulan menetap di Vietnam, akhirnya saya berkesempatan mengunjungi Dalat untuk pertama kalinya di bulan September tiga tahun yang lalu. Setelah menikmati kota Dalat selama dua hari, di mana kami bersepeda di sana dan jalan-jalan keliling kota, saya berpikir, “Sepertinya saya jatuh cinta dengan Dalat.”

Lalu tahun depannya saya kembali berliburan di kota ini. Saat itu kami menyewa motor dan berkeliling Dalat, di dalam kotanya dan di pinggiran kotanya. Kota Dalat ini ibarat Bandung atau Bogor. Kota yang didirikan sebagai tempat peristirahatan pada jaman kolonial Prancis di Vietnam. Kota yang terletak di dataran tinggi propinsi Lam Dong ini sungguh sejuk dan cantik. Dengan kondisi geografis dan cuaca mendukung, kota ini merupakan salah satu tempat budi daya dan suplai bunga dan sayur-sayuran di Vietnam. Kebutuhan masyarakat Vietnam akan bunga termasuk tinggi dikarenakan faktor budaya. Mereka banyak menggunakan bunga dalam berbagai kesempatan. Produk-produk agrikultur yang dihasilkan dari Dalat dan daerah sekitarnya juga merupakan produk unggulan. Salah satu tanaman berkhasiat, yaitu Artiso, merupakan produk unggulan dari sini. Tanaman ini dipercaya berkhasiat untuk mengobati kolesterol dan penyakit yang berhubungan dengan jantung. Oleh karenanya artiso banyak diproduksi dan disajikan dalam bentuk teh.

Banyak tempat menarik di dalat yang menjadi objek wisata. Pada dasarnya saat memasuki wilayah kota Dalat, kita sudah bisa menikmati keindahan lanskap kota. Bayangkan anda memasuki kota Dalat dengan jalan menurun dan bisa melihat danau luas di tengah kota yang dikelilingi rerumputan hijau, bunga-bunga yang mekar sepanjang tahun, bangunan-bangunan jaman kolonial yang masih terawat, bahkan kadang-kadang kita bisa melihat kuda yang berlarian di sekitar danau. Di kota ini, konservasi bangunan-bangunan bersejarah sangat serius dilakukan. Pemerintah Vietnam mengizinkan kepemilikan properti oleh swasta untuk dijadikan tempat tinggal, hotel, kafe, dan sebagainya asalkan tidak merubah sama sekali bentuk bangunannya. Oleh karenanya banyak sudut-sudut kota Dalat yang masih bernuansa otentik Eropa jaman dulu (meskipun saya juga belum pernah ke Eropa, apalagi ke jaman dulu ;) ). Pemerintah juga memberlakukan aturan untuk melarang bus-bus atau kendaraan besar seperti truk untuk memasuki kota untuk menghindari kesemrawutan. Oleh karena itu terminal bus untuk turis atau warga loka terletak di pinggiran kota. Dan perusahaan bus akan menyediakan layanan shuttle gratis untuk menjemput penumpang dari dan ke terminal bus. Terminal bus nya pun sangat tertata dan terawat mirip bandara.

Berdasarkan pengalaman saya, menikmati kota Dalat bisa dilakukan dengan menyewa motor sehingga kita bisa fleksibel untuk menikmati seluk beluk kota. Di dalam kota, kita menujungi objek wisata seperti Taman Bunga, Crazy House, danau, XO exhibition, Taman Lembah Cinta (sorry ya, ini translate langsung dari bahasa Inggris :D), istana musim panas raja Vietnam yang terakhir, stasiun kereta Dalat dan pasar di tengah kota. Untuk yang terakhir ini saya memasukannya ke dalam list objek wisata karena menurut saya utuk menikmati Vietnam, atau mungkin kota-kota lain juga, lebih terasa kalau kita bisa blend-in dengan warga lokal. Kita bisa melihat aktivitas dari sudut pandang masyarakat lokal dan kadang bisa dapat pelajaran hidup yang berharga.

Agak keluar kota sedikit, kita bisa mengunjungi kuil Buddha dan air terjun serta melihat-lihat kebun sayur, bunga dan buah-buahan. Oia, kalau yang pernah ke Ho Chi Minh CIty, mungkin pernah tahu ada jalan namanya Pasteur. Sama kayak di Bandung ya? Nah, Pasteur juga pernah mendirikan tempat riset di Dalat ini. KOmplek risetnya juga masih ada di sini.

Untuk persoalan kuliner, karena saya hanya bisa makan makanan yang halal, biasanya saya makan sarapan di hotel (sayur, ikan, telur) atau makanan vegetarian. Di Dalat juga ada restauran vegetarian yang sangat recommended menurut saya. Lokasinya ada di pusat kota. Tahun lalu saya kembali ke Dalat hanya untuk bersepeda. Dalat emang ngangenin..hehe. Di liburan tahun lalu, saya dan teman-teman pergi ke Dalat menggunakan bus malam dari Ho Chi Minh City. Lalu kembali keesokan paginya dengan pesawat yang paling pagi (pukul 3:30; yang paling murah FYI). Landscapenya yang berbukit-bukit sangat cocok untuk ber-MTB di Dalat.

Well...ini beberapa foto saya di Dalat. Salah satu kota di Asia Tenggara yang ngangenin dan oke buat liburan ;)


Bersepeda di samping danau di tengah kota Dalat

Tim pesepeda

Suasana pusat kota yang berkabut

Pemandangan taman di istana Bao Dai

Danau Dalat

31 Mei 2015

Moving to new place

Living in Ho Chi Minh City has become easier for me. It is not as though as I thought in the beginning when I arrived in this country. It becomes possible as I got new friend day by day. Neighborhood where I stayed so far also not bad, in the sense that I have easy access to my daily needs (food, entertainment and praying). I stayed in several places since I came to this city. In the first five months, I stayed in a Japanese hotel. The room was not big, but it was enough for me to have proper rest. One good thing from Japanese hotel is I can easily get halal food since most menu are seafood and I already familiar with Japanese food. One disturbing issue for staying in the hotel for a long term is that the management frequently asked me to move from one room to another when my staying period is extended. Maybe it won't happen if the occupancy rate is low, but my case was different. With above situation I'm getting used to be a "nomad." Packing and unpacking stuff is usual thing for me. After staying at hotel, I move to a serviced apartment. This so-called apartment actually is a renovated hotel. Maybe the previous owner had difficulty in running hotel service, so he/she sold the property to a serviced-apartment company. I stayed eight months in this new place. I got bigger room and better access to mosque (Musulmane Mosque in Dong Du Street). I can easily go to mosque for Fajr and Isya and extend my network with local and foreigner muslim in Ho Chi Minh City. Even every day after Fajr we recite Quran together as we have constant jamaah since I moved to that serviced-apartment. That "connection" made me feel uneasy when I decided to move to family-size apartment in the beginning of May.

I have to look for a new place because my wife will join me staying in Vietnam. I have browsed  several apartments long time before. Actually the information I collected was mainly from my Indonesian friend. Often I visited their place when I was still single and imagined what would it like if I stay there with my wife later. One area that attract me stay there is Phu My Hung (PMH) in District 7. It is a residential complex consisted of many apartments and living support (shops, schools, banks, hospital, etc.). The landscape of PMH is not like common Vietnamese neighborhood. It is completely different. The area was designed in modern style. It become one of popular destinations of people to spend their weekend. For me, I sometimes rent a bike in PMH and strolling around with my friends on Sunday. Since I already felt that PMH is suitable place for me to live, I began contacted property agent to see apartment unit for rent in early April. Unbelievably, I fell in love with the first unit I visit. And after comparing to other units, still, the first one was the best for me. It has spacious kitchen, integrated family space and dining room, study room, and relatively manageable in area (easy to clean, hopefully ;) ) Then after one month, I decided to move to that unit in Sky Garden apartment complex.

Sky Garden is beautiful and lively. It has shuttle bus stop to go to District 1. Very convenient in term of accessibility. Moreover, new big mall has just opened just next to our complex. With the same name as its Singapore branch, Vivo City offers new option for shopping and entertainment.

Although my new apartment is far from mosque, I hope I will find more barakah in there. It will be our first home to manage our small family with my wife :)

14 April 2015

Kenapa Semangat Yang Hidup?

Semua ini berawal dari tahun 2008 saat saya memutuskan untuk mencoba blogging. Postingan pertama saya (Izin masuk dunia Blog Pak!)juga masih ada dan cukup menjelaskan kenapa saya ingin ngeblog. Lalu mulailah saya memulai perjalanan tulis menulis saya di dunia online. Memulai ngeblog saat itu menjadi sesuatu yang sangat menarik. Mulai dari galau ganti-ganti background (banyak kepengaruhan orang-orang), nyoba-nyoba pake kata ganti (mulai dari aku dan akhirnya jadi saya), nyoba-nyoba style penulisan (formal, semi-formal, mencoba ngebodor), hingga akhirnya lambat laun menghasilkan karakter penulisan saya yang seperti ini. Dulu saat mau ngeblog sempet muncul di pikiran tentang keeksisan saya di dunia maya. Alhasil pernah pula saya sengaja mosting tulisan yang menggaet banyak visitor (seperti: Cara Menulis Daftar Pustaka, hehe...). Saat itu saya sangat ingin nyaingin visitor counter yang ada di blog salah satu senior saya, sebut saja Kang Mahmuy (bukan nama sebenarnya --> nama sebenarnya adalah M*c*m*e* Sa*t*s*). Motivasi memang kadang berganti-ganti. Pernah pula saya termotivasi menulis gara-gara ikutan kompetisi menulis, pernah juga karena sengaja pengen curhat, ataupun yang paling sering adalah karena ingin merekam pengalaman berharga. Untuk motivasi yang terakhir ini saya sangat merasakan sekali manfaat ngeblog. Pernah suatu saat saya sedang down, lalu iseng-iseng baca postingan-postingan lama saya dimana saya pernah merasakan manisnya perjuangan (uhuy, alhamdulillah) dan akhirnya saya pun bangkit lagi, semangat lagi. Ternyata tidak butuh orang lain untuk membangkitkan diri sendiri :)

15 Maret 2015

Dari WC ke Saigon

Siapa yang sepakat klo cingogo atau duduk sambil melakukan "aktivitas" di WC itu adalah salah satu momen yang pas untuk berkontemplasi? Kadang dari situ bisa muncul sebuah solusi tentang masalah yang sedang kita hadapi atau muncul ide-ide brilian tentang rencana yang akan kita lakukan di masa yang akan datang. Bahkan beberapa orang membuat perpustakaan di WC untuk memanfaatkan waktu "luang" mereka seperti gambar di bawah ini.

No need to be explained further :D (sumber: koleksi pribadi)


Saya pun pernah melakukan hal yang sama. Di tahun 2008, saat baru menjadi mahasiswa tingkat tiga, saya sempat memikirkan tentang masa depan saya di dunia teknik sipil. Saat itu saya mengingat-ingat kenapa saya memilih jurusan teknik sipil. Sejak kecil saya punya keinginan untuk membangun sesuatu, tapi saya masih belum tahu profesi apakah itu, apakah jadi arsitek atau insinyur. Lalu saat saya mulai menyenangi mata pelajaran Fisika di SMA, akhirnya saya memiliki kecenderungan masuk jurusan teknik sipil. Setelah masuk jurusan inilah kemudian saya mulai berpikir, mau jadi apa saya nanti.