31 Mei 2015

Moving to new place

Living in Ho Chi Minh City has become easier for me. It is not as though as I thought in the beginning when I arrived in this country. It becomes possible as I got new friend day by day. Neighborhood where I stayed so far also not bad, in the sense that I have easy access to my daily needs (food, entertainment and praying). I stayed in several places since I came to this city. In the first five months, I stayed in a Japanese hotel. The room was not big, but it was enough for me to have proper rest. One good thing from Japanese hotel is I can easily get halal food since most menu are seafood and I already familiar with Japanese food. One disturbing issue for staying in the hotel for a long term is that the management frequently asked me to move from one room to another when my staying period is extended. Maybe it won't happen if the occupancy rate is low, but my case was different. With above situation I'm getting used to be a "nomad." Packing and unpacking stuff is usual thing for me. After staying at hotel, I move to a serviced apartment. This so-called apartment actually is a renovated hotel. Maybe the previous owner had difficulty in running hotel service, so he/she sold the property to a serviced-apartment company. I stayed eight months in this new place. I got bigger room and better access to mosque (Musulmane Mosque in Dong Du Street). I can easily go to mosque for Fajr and Isya and extend my network with local and foreigner muslim in Ho Chi Minh City. Even every day after Fajr we recite Quran together as we have constant jamaah since I moved to that serviced-apartment. That "connection" made me feel uneasy when I decided to move to family-size apartment in the beginning of May.

I have to look for a new place because my wife will join me staying in Vietnam. I have browsed  several apartments long time before. Actually the information I collected was mainly from my Indonesian friend. Often I visited their place when I was still single and imagined what would it like if I stay there with my wife later. One area that attract me stay there is Phu My Hung (PMH) in District 7. It is a residential complex consisted of many apartments and living support (shops, schools, banks, hospital, etc.). The landscape of PMH is not like common Vietnamese neighborhood. It is completely different. The area was designed in modern style. It become one of popular destinations of people to spend their weekend. For me, I sometimes rent a bike in PMH and strolling around with my friends on Sunday. Since I already felt that PMH is suitable place for me to live, I began contacted property agent to see apartment unit for rent in early April. Unbelievably, I fell in love with the first unit I visit. And after comparing to other units, still, the first one was the best for me. It has spacious kitchen, integrated family space and dining room, study room, and relatively manageable in area (easy to clean, hopefully ;) ) Then after one month, I decided to move to that unit in Sky Garden apartment complex.

Sky Garden is beautiful and lively. It has shuttle bus stop to go to District 1. Very convenient in term of accessibility. Moreover, new big mall has just opened just next to our complex. With the same name as its Singapore branch, Vivo City offers new option for shopping and entertainment.

Although my new apartment is far from mosque, I hope I will find more barakah in there. It will be our first home to manage our small family with my wife :)

14 April 2015

Kenapa Semangat Yang Hidup?

Semua ini berawal dari tahun 2008 saat saya memutuskan untuk mencoba blogging. Postingan pertama saya (Izin masuk dunia Blog Pak!)juga masih ada dan cukup menjelaskan kenapa saya ingin ngeblog. Lalu mulailah saya memulai perjalanan tulis menulis saya di dunia online. Memulai ngeblog saat itu menjadi sesuatu yang sangat menarik. Mulai dari galau ganti-ganti background (banyak kepengaruhan orang-orang), nyoba-nyoba pake kata ganti (mulai dari aku dan akhirnya jadi saya), nyoba-nyoba style penulisan (formal, semi-formal, mencoba ngebodor), hingga akhirnya lambat laun menghasilkan karakter penulisan saya yang seperti ini. Dulu saat mau ngeblog sempet muncul di pikiran tentang keeksisan saya di dunia maya. Alhasil pernah pula saya sengaja mosting tulisan yang menggaet banyak visitor (seperti: Cara Menulis Daftar Pustaka, hehe...). Saat itu saya sangat ingin nyaingin visitor counter yang ada di blog salah satu senior saya, sebut saja Kang Mahmuy (bukan nama sebenarnya --> nama sebenarnya adalah M*c*m*e* Sa*t*s*). Motivasi memang kadang berganti-ganti. Pernah pula saya termotivasi menulis gara-gara ikutan kompetisi menulis, pernah juga karena sengaja pengen curhat, ataupun yang paling sering adalah karena ingin merekam pengalaman berharga. Untuk motivasi yang terakhir ini saya sangat merasakan sekali manfaat ngeblog. Pernah suatu saat saya sedang down, lalu iseng-iseng baca postingan-postingan lama saya dimana saya pernah merasakan manisnya perjuangan (uhuy, alhamdulillah) dan akhirnya saya pun bangkit lagi, semangat lagi. Ternyata tidak butuh orang lain untuk membangkitkan diri sendiri :)

15 Maret 2015

Dari WC ke Saigon

Siapa yang sepakat klo cingogo atau duduk sambil melakukan "aktivitas" di WC itu adalah salah satu momen yang pas untuk berkontemplasi? Kadang dari situ bisa muncul sebuah solusi tentang masalah yang sedang kita hadapi atau muncul ide-ide brilian tentang rencana yang akan kita lakukan di masa yang akan datang. Bahkan beberapa orang membuat perpustakaan di WC untuk memanfaatkan waktu "luang" mereka seperti gambar di bawah ini.

No need to be explained further :D (sumber: koleksi pribadi)


Saya pun pernah melakukan hal yang sama. Di tahun 2008, saat baru menjadi mahasiswa tingkat tiga, saya sempat memikirkan tentang masa depan saya di dunia teknik sipil. Saat itu saya mengingat-ingat kenapa saya memilih jurusan teknik sipil. Sejak kecil saya punya keinginan untuk membangun sesuatu, tapi saya masih belum tahu profesi apakah itu, apakah jadi arsitek atau insinyur. Lalu saat saya mulai menyenangi mata pelajaran Fisika di SMA, akhirnya saya memiliki kecenderungan masuk jurusan teknik sipil. Setelah masuk jurusan inilah kemudian saya mulai berpikir, mau jadi apa saya nanti.

04 Oktober 2014

Kehidupan Malam di Vietnam

Semalam saya solat Isya di masjid Dong Du selepas pulang dari kantor. Biasanya jika waktu solat berjamaah sudah lewat, saya langsung menuju restoran dan solat di kamar. Namun malam itu saya menyempatkan untuk solat di masjid meskipun pintu-pintu ke ruang utama sudah di tutup. Di koridor timur saya bertemu Pa Misri, warga Malaysia yang sama-sama bekerja di Vietnam, dan di koridor utara (mirip di masjid Salman) sekelompok pengurus masjid dan Haris, teman Vietnam saya yang masih mahasiswa, tampak sibuk menyiapkan spanduk dan papan pengumuman untuk solat Idul Adha keesokan harinya. Setelah solat saya bertegur sapa dengan Pa Misri yang ternyata tengah mengaji lewat smatphonenya. Lalu bergabunglah Haris dengan kami. Setelah berbincang-bincang sedikit tentang persiapan Idul Adha besok, Pa Misri mengajak kami untuk makan malam di dekat pasar Ben Thanh. Pasar Ben Thanh adalah salah satu icon Ho Chi Minh City, banyak turis datang ke sana untuk belanja oleh-oleh. Meskipun icon kota, tapi kondisinya masih sumpek dan mirip pasar-pasar tradisional Indonesia. Kita pun mesti berhati-hati berbelanja di sana karena saya dengar sering ada kasus pencopetan.

Kami pun menuju pasar Ben Thanh dengan menggunakan motor. Saya dibonceng Pa Misri, sedangkan Haris menggunakan motornya sendiri. Alhamdulillah malam itu saya bisa makan bersama teman. Biasanya saya makan sendiri di restoran halal samping masjid. Malam itu jalan di sekitar pasar Ben Thanh cukup padat karena pasar tumpah. Banyak turis dan warga lokal yang menghabiskan waktu malam Sabtu di sana. Banyak sekali saya lihat turis-turis yang berjilbab, yang ternyata turis Malaysia. Pa Misri bercerita bahwa Vietnam adalah salah satu negara favorit tujuan wisatawan Malaysia, karena selain tiket dan akomodasi yang relatif murah, produk sandangnya menjadi tujuan utama belanja. Di Malaysia biaya produksi dan harga baju cukup mahal sehingga tak heran jika warga Malaysia mencari produk tekstil ke Vietnam dan Bandung. Saya baru sadar ternyata ini toh salah satu alasannya mengapa Bandung banyak dikunjungi wisatawan dari negeri Jiran itu.

Rumah makan yang kami tuju adalah Halal Amin. Malam itu saya dan Haris memesan sup ayam bihun (ata sup bihun ayam, saya lupa namanya). Sedangkan Pa Misri, yang sebelumnya sudah makan, hanya membeli durian dari penjaja di depan rumah makan. Wah, ternyata durian yang dia beli sepertinya high grade, karena dagingnya empuk, manis dan kualitasnya itu bisa dijustifikasi dengan harganya yang mahal. Hehe. Vietnam memang terkenal dengan kualitas produk agrikulturnya. Beberapa bulan yang lalu, saat musim mangga, saya sangat terkesima dengan kualitas mangga di sini. Meskipun kulitnya masih hijau, jika kita diamkan 2-3 hari, buahnya langsung matang dan betul-betul sedap untuk disantap. Kuning, padat dan manis.

Saat makan Pa Misri bercerita bahwa hari ini dia bermotor menuju kantornya yang berjarak 20an kilometer dari apartemennya. Lalu dia harus ke masjid untuk solat Jumat dan kembali ke kantor. Total jarak yang ditempuh hari ini sekitar 80an kilometer. Masya Allah. Saat itu saya langsung bersyukur dengan jarak kantor yang cukup dekat dengan masjid dan apartemen saya pun hanya berjarak puluhan meter dari mesjid. Dulu saat saya datang ke Vietnam, saya cukup khawatir dengan kondisi lingkungan, apakah mendukung untuk beribadah atau tidak. Karena sebelum saya datang ke Vietnam, saya sama sekali blank tentang kehidupan orang-orang di Vietnam, apalagi muslimnya. Dulu sebelum saya ke Jepang saya bisa mengontak PPI di sana sebelum kedatangan, sehingga minimal ada bayangan bagaimana menyiasati untuk survive di sini. Dalam konteks ini, survive mencari makanan halal dan tempat solat. Saya masih teringat, hari-hari pertama saya di Ho Chi minh City saya lewati tanpa gairah. Berharap keberuntungan datang dan perusahaan menempatkan saya kembali di Singapura sehingga saya bisa lebih dekat dengan kampung halaman. Namun ternyata Allah mengabulkan doa saya yang meminta untuk diberi kemudahan dalam menjalani kehidupan di sini. Satu per satu jawaban muncul. Saya akhirnya memiliki teman dari komunitas orang Indonesia dan komunitas masjid Dong Du. Setiap kami berencana berkumpul, itulah saat yang saya tunggu-tunggu. Tempat tinggal pun menjadi dekat dengan masjid, dimana akses ke makanan halal jadi lebih mudah. Saya masih bisa solat Dzuhur, Ashar, dan Magrib di roof top kantor. Hari Jumat pun saya diperbolehkan untuk memperpanjang lunch break demi solat Jumat. Inilah salah satu nikmat Allah yang intangible.

Setelah selesai makan, kami kembali ke masjid Dong Du. Pa Misri dan Haris pulang ke Distrik 2, sedangkan saya berjalan kaki menuju apartemen. Alhamdulillah, malam itu saya mendapatkan pengalaman baru lagi hasil dari silaturahmi dengan teman-teman. Semoga hari-hari berikutnya di Ho Chi Minh City menjadi lebih mudah dan menyenangkan buat saya dan saya bisa belajar banyak dari pengalaman selama tinggal di sini.

27 Juli 2014

Ramadhan di Ho Chi Minh City 1435 H

Saat mendengar "Negeri Paman Sam," pikiran saya otomatis tertuju ke Amerika Serikat, saking seringnya  mendengar julukan itu. Namun  saat mendengar "Negeri Paman Ho," bagi saya julukan itu terasa asing dan tidak sadar bahwa itu merujuk kepada salah satu tetangga ASEAN kita, Vietnam. Paman Ho adalah nama panggilan untuk Ho Chi Minh, presiden pertama Vietnam. Menurut teman Vietnam saya, sebutan "Paman Ho" itu merupakan pilihan Ho Chi Minh sendiri. Ia lebih senang rakyatnya memanggil Paman Ho dibanding Presiden Ho Chi Minh. Sekarang Ho Chi Minh menjadi nama kota terbesar di Vietnam, Ho Chi Minh City (HCMC), yang dulunya bernama Saigon.

Dikarenakan penugasan dari kantor, tahun ini saya berkesempatan untuk menjalani Ramadhan di kota tersebut. Sama seperti kondisi di negara yang bukan mayoritas muslim lainnya, suasana Ramadhan di Vietnam mungkin tidak 'semeriah' di Indonesia. Namun, bisa melihat dan merasakan Ramadhan di negara yang berbeda ini tentunya merupakan pengalaman yang menarik bagi saya.

Tarawih pertama di Vietnam dimulai pada malam tanggal 28 Juli. Keputusan ini didasarkan pada hasil pengamatan dan musyawarah panitia hilal di Vietnam. Tapi ada rekan juga yang bilang kalau keputusan ini merujuk hasil pengamatan di Malaysia. Di malam pertama Ramadhan, masjid utama HCMC di Dong Du Street tiba-tiba penuh dengan jamaah. Hampir seluruh shaf terisi oleh muslim dari Vietnam dan juga muslim dari negara lain. Lokasi masjid yang strategis di pusat kota dan dikelilingi hotel-hotel juga menjadi faktor yang memudahkan ekspatriat atau tamu-tamu muslim untuk datang ke masjid.

Sahur dan Berbuka

Di Vietnam, terkecuali bagi orang-orang yang pernah berinteraksi dengan muslim, Islam dan bulan Ramadhan merupakan sesuatu yang asing. Sehingga perlu trik khusus jika kita berkunjung ke Vietnam dan ingin melakukan ibadah Ramadhan dengan nyaman. Salah satu diantaranya ialah menyiasati sahur. Untuk yang tinggal di apartemen atau rumah, mungkin mempersiapkan sahur tidak akan sulit karena bisa memasak masakan sendiri. Namun bagi saya yang masih tinggal di hotel, saya biasanya menyiapkan makanan instan seperti sereal dan mi instan. Untungnya di HCMC banyak produk-produk Indonesia dan Malaysia yang tersertifikasi halal, jadi tidak perlu khawatir. Trik lainnya adalah meminta early breakfast pada staf hotel. Biasanya hotel menyediakan free breakfast untuk tamu-tamunya, dan di sebagian hotel mereka juga menyediakan layanan khusus untuk sarapan lebih awal. Saya tinggal di hotel jepang dan mereka bersedia mengantar onigiri sebelum jam 4 pagi atau pada malam sebelumnya. Teman saya juga ada yang meminta diantarkan jus ke kamarnya hotelnya tiap dini hari. Jika ada hotel yang tidak bersedia melayani early breakfast, kita pun masih bisa memesan makanan untuk sahur dari restoran-restoran halal (biasanya restoran Malaysia) yang ada di sekitar Distrik 1 HCMC. Mereka bisa melayani pesan-antar.

Saat berbuka (iftar) biasanya masjid-masjid menyediakan makanan berbuka. Hampir sama dengan suasana di Indonesia, terkecuali menunya. Di sini bubur adalah menu yang wajib ada di samping buah-buahan dan kurma.

Buka Bersama Masyarakat Indonesia di Ho Chi Minh City

Jujur, saya merasa asing saat pertama kali menginjakkan kaki di HCMC. Meskipun dari segi fisik, orang Indonesia itu mirip orang Vietnam, tapi dari budaya dan bahasa sangat berbeda jauh. Dan hal pertama yang saya cari di sini adalah teman se-tanah air. Alhamdulillah akhirnya saya menemukan komunitas Indonesia yang rata-rata bekerja di HCMC dan wilayah sekitarnya. Di bulan Ramadhan ini pun, beberapa rekan Indonesia dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di HCMC bersedia menjadi host buka bersama. Bagi orang-orang yang berada di perantauan, kegiatan kumpul seperti ini bisa mengobati rasa rindu tanah air.
Buka puasa dan silaturahmi di Wisma Konjen. Alhamdulillah bisa mencicipi masakan Indonesia lagi :D

Safari Ramadhan

Karena ini Ramadhan pertama saya di HCMC, untuk kali pertama pula saya mengikuti kegiatan Safari Ramadhan yang digagas oleh beberapa rekan di Masyarakat Indonesia (Masyindo) HCMC. Tiap tahun komunitas muslim Indonesia di HCMC mengumpulkan infak untuk disalurkan ke masjid-masjid di beberapa distrik di HCMC. Umumnya masjid-masjid yang dikunjungi adalah yang di luar Distrik 1 dan jarang terjangkau ekspat-ekspat muslim yang biasanya beraktifitas di Distik 1. Lokasi masjid-masjid ini beragam, ada yang di dekat jalan besar, tapi ada juga yang terletak di dalam perkampungan-perkampungan padat. Yang menarik bagi saya, saat mengunjungi salah satu masjid di kampung yang padat, suasananya mengingatkan saya pada daerah padat di Bandung seperti Kopo dan Cicadas. Seolah-olah ada bagian dari Indonesia yang dipindah ke Vietnam ini. Yang biasanya saya melihat banyak toko-toko dengan tulisan dalam bahasa Vietnam dan orang-orangnya berpakaian "vietnam", saat masuk perkampungan ini, saya melihat banyak warung halal dan toko pakaian muslim yang sebagian ditulis dengan bahasa Melayu. Orang-orang yang saya temui pun banyak yang memakai baju koko, sarung, dan peci. Mirip sekali dengan Indonesia, apalagi muslim di sini kebanyakan adalah suku bangsa Cham yang secara fisik sama dengan orang Indonesia (rata-rata berkulit sawo matang).